Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Turun ke Level Terendah Dalam Satu Minggu Pertumbuhan Ekonomi Global dan Permintaan Energi

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga minyak mentah turun ke level terendah dalam satu minggu karena pasar mempertimbangkan dampak dari tarif yang diusulkan Presiden AS Donald Trump terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.(Sumber foto: reuters

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (22/1/2025) harga minyak mentah turun ke level terendah dalam satu minggu karena pasar mempertimbangkan dampak dari tarif yang diusulkan Presiden AS Donald Trump terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.

Berdasarkan data dilansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 29 sen, atau 0,4%, menjadi US$79,00 per barel.

Sementara minyak mentah mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 39 sen, atau 0,5%, menjadi US$75,44 per barel.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

BACA: Harga Minyak Mentah Stabil Setelah Sebelumnya Mencapai Level Tertinggi Dalam Beberapa Bulan

Penurunan ini menandai hari kelima berturut-turut Brent mengalami pelemahan, pertama kali sejak September, dan hari keempat berturut-turut untuk WTI, pertama kali sejak November.

Kedua patokan minyak mentah tersebut ditutup di level terendah sejak 9 Januari selama dua hari berturut-turut.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

"Potensi sanksi di bawah pemerintahan Trump yang baru tetap tidak jelas, dengan tarif terhadap Kanada dan Meksiko tampaknya menjadi fokus utama ketidakpastian pedagang," tulis analis dari firma penasihat energi Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan.

Trump menyatakan bahwa pemerintahannya sedang membahas penerapan tarif 10% pada barang-barang impor dari Tiongkok mulai 1 Februari.

Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa AS mengimpor sekitar 200.000 barel per hari (bpd) minyak dari Venezuela selama 10 bulan pertama tahun 2024, meningkat dari rata-rata 100.000 bpd pada 2023.

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

Sementara itu, Iran, anggota OPEC lainnya yang juga berada di bawah sanksi AS, mengirim pesan damai kepada para pemimpin Barat di Davos, dengan seorang pejabat tinggi membantah bahwa Iran menginginkan senjata nuklir dan menawarkan diskusi tentang peluang kerja sama.

Dalam berita OPEC lainnya, ekspor minyak mentah Arab Saudi pada November mencapai level tertinggi dalam delapan bulan.

Analis memproyeksikan stok minyak mentah AS turun sekitar 1,6 juta barel pekan lalu, menjelang rilis data dari American Petroleum Institute (API) pada Rabu dan EIA pada Kamis.

Baca Juga : Trump Sebut Respons Iran Terhadap Proposal Damai AS Tidak Dapat Diterima

Jika benar, ini akan menjadi pertama kalinya perusahaan energi menarik minyak dari penyimpanan selama sembilan pekan berturut-turut sejak Januari 2018, ketika mereka menarik minyak selama 10 pekan berturut-turut, mencetak rekor.

Sebagai perbandingan, penarikan pada pekan yang sama tahun lalu mencapai 9,2 juta barel, sementara rata-rata penarikan selama lima tahun terakhir (2020-2024) sebesar 800.000 barel.

Secara terpisah, beberapa pelabuhan di Texas mulai kembali beroperasi pada Rabu setelah Badai Musim Dingin Enzo mengganggu operasi energi dan pengiriman awal pekan ini.