Nusantaraterkini.co, MEDAN - Menjelang pergantian tahun, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit terus merosot, memicu keluhan dari para petani di Bagan Batu, Riau. Kondisi ini semakin membebani, terutama karena kebutuhan keluarga meningkat menjelang tahun baru.
Penurunan harga TBS dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) di pasar global. Faktor lain seperti kebijakan ekspor, cuaca yang tidak stabil, serta kondisi pasar internasional turut memperburuk situasi ini.
"Bagi petani kecil seperti kami, ini sangat berat. Biaya operasional kebun seperti pupuk, tenaga kerja, dan perawatan tetap tinggi, tapi penghasilan semakin kecil," ungkap Siagian, salah satu petani sawit di wilayah Bagan Batu saat dikonfirmasi Nusantaraterkini.co, Sabtu (28/12/2024).
Baca Juga : Analis Pasar: IHSG Diperkirakan Cenderung Tertekan Mengingat Tarif Impor Bersifat Global
Siagian juga mengungkapkan bahwa penurunan harga ini menjadi pukulan berat bagi para petani, terutama di akhir tahun yang penuh dengan kebutuhan tambahan.
“Pusing kali rasanya. Harga turun begini, padahal pengeluaran keluarga menjelang tahun baru justru naik,” keluhnya.
Para petani berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga sawit. Mereka juga meminta adanya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani kecil agar dapat menghadapi tantangan ekonomi ini.
Baca Juga : Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp16.675 per Dolar AS, Namun Diprediksi Melemah Sepanjang Hari
"Harapan kami, pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi ini. Kalau tidak, banyak petani yang akan semakin terpuruk. Kami ingin harga stabil agar kami bisa bertahan," tambah Siagian, menutup pembicaraan dengan penuh harap.
(cw9/nusantaraterkini.co)
