nusantaraterkini.co, JAKARTA - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono menegaskan gerakan demonstrasi yang terjadii serempak di tanah air tidak murni dari ekspresi rakyat, melainkan ada campur tangan dan intervensi dari pihak asing yang memanfaatkan tangan-tangan lokal dalam negeri.
Menanggapi hal itu, Direktur Ekonomi Digital, Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai gerakan aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir murni muncul karena rakyat resah, bukan karena adanya kepentingan asing.
“Terkait dengan kepentingan asing, saya rasa tidak benar karena gerakan ini muncul akibat rakyat yang marah, resah, terhadap kondisi ekonomi mereka,” kata Nailul Huda, Sabtu (30/8/2025).
Baca Juga : Bakhtiar Sibarani Tantang Masinton Pasaribu Debat Soal Proyek Kantor Bupati
Masyarakat, lanjut Nailul bilang sudah sulit mendapatkan pekerjaan dan pendapatan. Kemarahan rakyat, sambung dia, sudah memuncak, sehingga muncul aksi besar-besaran seperti saat ini.
“Mereka semakin sulit mendapatkan pekerjaan, sulit mendapatkan pendapatan. Ketika sudah memuncak, maka terjadilah aksi seperti kemarin,” tegasnya.
Sebelumnya, Hendropriyono bilang, kericuhan yang terjadi bukan spontanitas massa biasa, melainkan bagian dari agenda besar dengan aktor transnasional yang memiliki kepentingan politik dan ekonomi terhadap Indonesia. Ia mengklaim pada waktunya akan mengungkap identitas pihak-pihak yang bermain di balik pengerahan massa tersebut.
Baca Juga : Eks Menteri Pertanian China Divonis Mati karena Kasus Suap Ratusan Miliar
Dalam pernyataannya, Hendropriyono juga menyinggung adanya kekuatan non-negara (non-state actor) dengan pengaruh besar dalam hal kebijakan global yang dinilai turut memprovokasi situasi dalam negeri. Ia menyebut beberapa nama tokoh dan kelompok kapitalis internasional yang kerap menggunakan kekuatan non-militer untuk mendestabilisasi negara lain, termasuk Indonesia.
“Ini bukan negara, tapi mereka berpengaruh besar terhadap arah kebijakan global. Mereka punya agenda. Dan langkah-langkah di dalam negeri kita sering kali selaras dengan kepentingan mereka,” ujar Hendropriyono.
Ia menambahkan bahwa metode “penjajahan” ala baru sudah berubah dari masa ke masa, terutama melalui teori dan praktik intervensi ekonomi, politik, serta manipulasi gerakan sosial. Intervensi ini dianggap lebih berbahaya karena berjalan di balik layar dan menggunakan simbolisme demokrasi serta hak berpendapat.
Baca Juga : Petugas SPPG di Pasar Rebo Aniaya Wartawan, Kepala BGN Minta Maaf
(cw1/nusantaraterkini.co)
