Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga berulang kali memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) dinilai bukan sekadar koreksi teknis pasar.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menegaskan peristiwa tersebut merupakan alarm keras bagi otoritas pasar modal dan pemerintah untuk segera melakukan pembenahan mendasar.
Baca Juga : IHSG Tertekan Efek MSCI, Investor Asing Diam-Diam Koleksi Saham Pilihan
Menurut Amin, penurunan IHSG yang menembus ambang batas lebih dari 5 persen dalam satu sesi sebagaimana ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kepercayaan investor sedang berada pada titik rawan.
Baca Juga : IHSG Tumbang 3,72 Persen ke 7.964, Saat Bursa Asia Justru Menghijau
“Kita tidak bisa terus menormalisasi kejadian luar biasa. Jika trading halt terjadi berulang, itu bukan fluktuasi sehat, melainkan sinyal bahwa pasar sedang kehilangan kepercayaan. Ini bukan hanya soal satu-dua emiten, tetapi soal tata kelola pasar modal secara keseluruhan,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).
Meski demikian, Amin menegaskan kebijakan trading halt bukan kegagalan sistem, melainkan mekanisme pengaman yang memang dirancang untuk mencegah kepanikan berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
Baca Juga : IHSG Anjlok 8 Persen Hingga Trading Halt, Menko Airlangga: Investor Tidak Perlu Panik
“Trading halt adalah rem darurat. Yang perlu dikritisi bukan remnya, tetapi mengapa rem itu sampai sering ditarik,” tegas politisi PKS tersebut.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan
Amin juga menyoroti perhatian serius investor global menyusul mencuatnya isu pembekuan sementara rebalancing oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ia mengingatkan, indeks MSCI menjadi acuan utama dana-dana raksasa dunia, termasuk dana pensiun dan indeks pasif, sehingga setiap sinyal negatif langsung berdampak sistemik.
Baca Juga : OJK Jaga Stabilitas Sektor Jasa Keuangan di Tengah Volatilitas Global dan Risiko Stagflasi
“MSCI bukan pemain kecil. Ketika mereka menyinggung persoalan investability, pasar global langsung membaca ada masalah struktural. Ini tidak boleh dianggap sepele,” kata Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Negara (BAKN) DPR RI itu.
Namun Amin menekankan, sorotan MSCI bukan vonis bahwa pasar modal Indonesia gagal, melainkan peringatan dini atas berbagai persoalan laten yang selama ini kerap diabaikan.
Ia menyebut isu transparansi data free float, struktur kepemilikan saham, hingga konsistensi pengawasan sebagai pekerjaan rumah yang tak bisa lagi ditunda.
Amin mengapresiasi langkah BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah membuka komunikasi intensif dengan MSCI dan menargetkan penyelesaian persoalan tersebut paling lambat Mei 2026. Meski begitu, ia mengingatkan pasar tidak cukup diyakinkan dengan pernyataan normatif.
“Komunikasi itu penting, tapi investor global menunggu bukti. Tanpa perubahan nyata, kepercayaan tidak akan pulih hanya dengan klarifikasi,” ujarnya.
Sebagai mitra pemerintah, DPR mendorong tindak lanjut yang lebih konkret dan terukur. Amin menekankan tiga agenda mendesak: penyediaan data pasar yang dapat diverifikasi secara independen, metodologi yang transparan dan konsisten agar tidak menimbulkan tafsir berbeda, serta penguatan sistem pengawasan dini untuk mendeteksi risiko sebelum memicu gejolak besar.
Terkait kekhawatiran Indonesia berpotensi turun ke kategori frontier market, Amin meminta publik tidak panik. Ia menilai risiko tersebut masih bersifat teoritis, namun tidak boleh diabaikan.
“Ini belum menjadi kenyataan, tapi justru karena itu harus dicegah. Periode hingga Mei 2026 adalah window of opportunity. Kalau kita gagal berbenah sekarang, risikonya akan jauh lebih mahal,” katanya.
Amin menegaskan sikap defensif dan penyangkalan justru akan memperburuk persepsi pasar internasional. Sebaliknya, pengakuan terbuka atas masalah yang diikuti langkah cepat dan kredibel akan menjadi nilai tambah.
“Pasar global menghargai kejujuran dan tindakan nyata. Jika regulator dan pemerintah mampu menunjukkan reformasi yang transparan dan terukur, kepercayaan investor bukan hanya bisa pulih, tapi tumbuh lebih kuat,” pungkasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
