Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih membuka peluang melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Rabu (21/1/2026), meskipun tekanan jual mulai terlihat usai indeks mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat tipis 0,01% ke level 9.134, sekaligus menorehkan ATH baru. Namun, penguatan yang terbatas tersebut menandakan pasar mulai memasuki fase selektif, seiring target teknikal jangka pendek yang telah tercapai.
Tim Analis MNC Sekuritas menilai IHSG masih berpeluang menguji area 9.192–9.229, meski investor perlu mewaspadai potensi koreksi sehat dalam jangka pendek.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Saham BBRI hingga INCO
“Tekanan jual mulai muncul setelah target penguatan tercapai. Koreksi ke area 9.088–9.106 masih tergolong wajar sebagai bagian dari wave (v) dari wave [iii],” tulis MNC Sekuritas dalam riset hariannya.
Untuk perdagangan hari ini, support IHSG berada di level 9.088 dan 8.956, sementara resistansi berada di kisaran 9.192 dan 9.227.
Saham Rekomendasi Hari Ini
Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global
Seiring pergerakan pasar yang semakin selektif, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati, antara lain:
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
IHSG Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah
Di sisi lain, penguatan IHSG terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin selektif dalam memilih sektor dan emiten.
Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai prospek IHSG sepanjang 2026 masih berada dalam jalur positif. Ia memproyeksikan target base case di level 9.400, dengan optimist case mencapai 10.200.
Menurut Andrey, prospek tersebut ditopang oleh pemulihan laba emiten, perbaikan margin sektor-sektor utama, pelonggaran kondisi keuangan domestik, serta daya tarik pertumbuhan Indonesia di antara negara emerging markets.
“Meski volatilitas global tetap menjadi risiko, tren jangka menengah IHSG masih konstruktif selama stabilitas makro dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga,” ujarnya.
Rupiah Lemah, Saham Ekspor Diuntungkan
Sementara itu, Andrey menilai ruang penguatan rupiah relatif terbatas akibat tingginya permintaan dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global, serta aktivitas lindung nilai investor asing. Karena itu, 2026 dinilai lebih menarik sebagai fase optimisme berbasis ekuitas, dengan kehati-hatian di sisi mata uang.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pelemahan rupiah berpotensi menguntungkan saham berorientasi ekspor.
Pandangan senada disampaikan Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan. Ia menilai sektor komoditas seperti emas, nikel, batu bara, dan crude palm oil (CPO) berpeluang diuntungkan, terutama emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS dan biaya dalam rupiah.
“Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti consumer goods tertentu, farmasi, dan manufaktur berbahan baku impor, berpotensi tertekan akibat kenaikan biaya dan tekanan margin,” jelas Ekky.
Adapun untuk sektor perbankan, Ekky menilai dampak pelemahan rupiah relatif netral secara fundamental. Namun, tingginya kepemilikan asing membuat saham perbankan tetap sensitif terhadap dinamika arus modal global.
(Dra/nusantaraterkini.co).
