Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

IHSG Terkoreksi 33,055 Poin ke Level 7.504,713 di Awal Perdagangan Agustus, Senin (4/8/2025)

Editor :  Team
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi seiring tekanan dari sentimen negatif eksternal, khususnya dari Amerika Serikat (AS).

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada awal perdagangan Agustus, Senin (4/8/2025) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi seiring tekanan dari sentimen negatif eksternal, khususnya dari Amerika Serikat (AS).

Baca Juga : IHSG Berbalik Arah Melemah 55,106 Poin ke Level 7.562,801 di Perdagangan Sesi Pertama Rabu (30/7/2025)

Mengacu pada data RTI pukul 09.09 WIB, IHSG turun 0,44% atau 33,055 poin ke level 7.504,713. Sebanyak 250 saham melemah, 216 saham menguat, dan 198 stagnan.

Total volume perdagangan mencapai 2,68 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,46 triliun.

Baca Juga : IHSG Berbalik Arah Menguat 9,488 Poin ke Level 7.624,256 Siang Ini

Delapan dari sebelas indeks sektoral menekan IHSG pagi ini. Tiga sektor dengan koreksi terdalam adalah: IDX-Energy turun 0,87%, IDX-Finance turun 0,50%, dan IDX-Technology turun 0,31%.

Baca Juga : Analisis Pasar: IHSG Ditaksir Bergerak Berfluktuatif Cenderung Melemah

Saham LQ45 yang Paling Melemah:

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): -4,72%

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): -2,86%

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA): -2,83%

Saham LQ45 yang Paling Menguat:

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): +2,08%

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): +1,63%

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): +1,01%

Analis Pasar: IHSG Diramalka akan Bergerak dalam Kisaran 7.240–7.500

Pada perdagangan Jumat (1/8/2025) Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dipengaruhi oleh sentimen global di Agustus 2025. 

Tapi, IHSG menutup perdagangan perdana di Agustus 2025 dengan menguat 0,71% ke level 7.537,77 di pasar spot.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, masih ada peluang rebound teknikal di pertengahan bulan ke arah akhir bulan alias dua pekan terakhir di Agustus 2025. 

Menurutnya, meskipun tekanan eksternal masih ada seperti risiko perlambatan global akibat dampak tarif dan tensi geopolitik regional, IHSG relatif defensif dibanding bursa regional lain. 

“Terutama karena sektor-sektor konglomerasi yang berkapitalisasi besar dan yang mendapatkan katalis positif dari keterbaruan terkait tarif impor global belakangan ini,” jelasnya.

Liza bilang, ada beberapa sentimen besar yang patut dicermati oleh investor. Yakni, berlakunya tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump per 1 Agustus 2025.

Selain itu, Agustus menjadi puncak rilis kinerja emiten periode semester I-2025. Liza menilai ada potensi kejutan positif dari sektor perbankan, telekomunikasi dan tambang logam mulia. 

Investor juga dapat mencermati kebijakan Bank Indonesia (BI) dan nilai tukar rupiah. Dengan inflasi yang terkendali dan rupiah yang stabil, Kiwoom Sekuritas memproyeksikan masih ada peluang BI memangkas suku bunga. 

"Ini akan menjadi katalis positif bagi sektor domestik terlebih perbankan yang saat ini masih laggard akibat tertekan dari kinerja para emiten," ucap Liza. 

Terakhir, prospek China dan global. Meskipun headline GDP China masih tumbuh solid di 5,3%, aktivitas manufaktur dan ekspor mereka terus melemah, tetapi ini dapat menekan harga komoditas dan permintaan global. 

"Hal tersebut akan berdampak ke sektor energi dan logam di Indonesia. Namun sisi positifnya, pelemahan China membuka ruang pelonggaran moneter regional, termasuk di Indonesia," kata dia

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 7.240–7.500 di Agustus 2025. Ada lima saham yang menjadi unggulan Kiwoom Sekuritas untuk bulan ini. 

Yakni, BBCA dengan target harga di Rp 10.200, KLBF dengan target di Rp 1.770. Kemudian ada MDKA, AKRA dan SSIA dengan masing-masing target harga di Rp 2.850, Rp 1.630 dan Rp 650.