nusantaraterkini.co, MEDAN - Dalam mengisi sisa waktu pasca menunaikan ibadah haji 1446 H/ 2025 M. Jemaah kloter 9 KNO tetap menjadwalkan program ziarah ke beberapa tempat yang menjadi situs sejarah peradaban Islam di seputaran kota suci Mekkah.
Kegiatan ziarah tersebut diakhiri dengan pelaksanaan umroh Sunnah dengan mengambil miqot yang dekat dengan destinasi ziarah.
Rombongan kloter 9 KNO yang melaksanakan kegiatan ziarah tersebut dipandu oleh pembimbing ibadah KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh ) Adliyah Medan, Al Ustadz Ikhwansyah Nasution.
Baca Juga : Ratusan Warga Palembang Padati Air Mancur Cempako Telok Usai Salat Id
Ketua kloter 9 KNO Muhammad Lukman Hakim Hasibuan kepada Humas PPIH Debarkasi Medan Kamis (12/6/2025) mengatakan, Pembimbing ibadah dari KBIHU senantiasa berkordinasi dan bersinergi dalam menyampaikan kegiatan ziarahnya kepada kepada petugas kloter.
“Hari ini jemaah dari KBIHU Adliyah dan Pemko Medan bersepakat untuk melakukan ziarah di dua lokasi dengan menggunakan 3 bus wisata menuju Museum Abu Bakar Al Maoudi dan tempat perjanjian Hudaibiyah, dimana jemaah haji sekaligus mengambil Miqot di sana," ucapnya.
Lukman menjelaskan, Museum Abu Bakar Al Maoudi lokasinya di daerah El Shimeisi, pinggiran kota suci Mekkah. Untuk mencapainya, perlu sekitar 15 menit berkendara mobil dari Masjidil Haram.
Baca Juga : 354 Jemaah Haji Kloter 14 Tiba di Tanah Air
Museum berisi berbagai properti peradaban dan perlengkapan hidup sehari- hari masyarakat Arab di zaman dulu. Mulai dari sumur, batu bangunan, perlengkapan memasak serta makan dan minum, toko, rumah, ranjang, sofa, perhiasan dan pakaian.
Ada juga peralatan perang tentara Arab seperti baju dan pedang. Suasana Makkah tempo dulu hingga kini disajikan dalam rangkaian foto.
Selanjutnya rombongan jemaah haji kloter 9 KNO bergerak ke Hudaibiyah untuk mengambil miqat umrah sunnah.
Baca Juga : Optimalkan Layanan Jemaah Haji, Kanwil Kemenag Sumut Terapkan Sistem One-Stop Service dan Menu Khusus Lansia
Kepala KUA Medan Amplas itu menyampaikan, Hudaibiyah sendiri adalah situs sejarah dalam Islam.
Nama Hudaibiyah sebenarnya diambil dari nama telaga, yang juga dikenal dengan sebutan telaga Asy-Syumaisi. Sejarah Islam menyebutkan, Hudaibiyah menjadi pintu masuk kecemerlangan kaum Muslimin dalam menaklukkan Kota Makkah (Fathul Makkah).
Di kota ini, Rasulullah SAW dan kaum Quraisy Makkah membuat perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah. Inti dari perjanjian tersebut adalah perdamaian untuk saling tidak menyerang.
Baca Juga : Sela Qamsiah Siswi 14 Tahun jadi Jemaah Termuda Gantikan sang Ibu
Walaupun perjanjian Hudaibiyah ini satu sisi merugikan umat Islam namun dengan penuh kesabaran ditaati oleh Rasul dan sahabat sehingga tercipta gencatan senjata damai.
Lambat Laun kemudian Islam berkembang pesat dan pada akhirnya Umat Islam mempunyai kebebasan penuh untuk mendakwahkan Islam.
Masyarakat Makkah akhirnya menyadari kejayaan Islam yang indah dan ramah dengan sentuhan dakwah dan akhlaq sehingga membuat penduduk Mekkah bersimpati dan akhirnya banyak yang masuk Islam.
Baca Juga : Wali Kota Wesly Silalahi Pimpin Ziarah Nasional Jelang HUT ke-155 Pematangsiantar
“Kisah tersebut berlangsung pada bulan Dzulqaidah tahun 6 Hijriah saat umat Islam Madinah yang terdiri atas kaum Muhajirin dan Anshar berencana akan melakukan umrah di Baitullah. Keputusan melakukan umrah ini diawali dari mimpi Rasulullah SAW yang menggambarkan beliau serta sahabat-sahabatnya bisa masuk ke Masjidil Haram dan melakukan umrah dengan aman,” jelasnya.
Ziarah ini membawa kesan tersendiri bagi jemaah Kloter 9 KNO. Chairul (56) warga Medan Labuhan mengatakan, ziarah tersebut mengingatkan kita, bagaimana perkembangan peradaban Islam bersentuhan dengan peradaban setempat.
Satu sisi juga, perjanjian Hudaibiyah mengajarkan kita, dalam meraih tujuan politik tidak mesti menggunakan dan menghalalkan segala macam cara.
Baca Juga : Berkah Ramadan, Penjual Kembang di TPU Vespa Kelapa Gading Raup Omzet Nyaris 3 Kali Lipat
"Politik itu adalah instrument mencapai sesuatu yang pertanggungjawabannya bukan hanya sebatas kepada manusia tapi juga kepada Tuhan," tuturnya.
Lain halnya dengan Yanti Suryani (48) warga Letda Sujono Medan Tembung, ia mengatakan, perjanjian Hudaibiyah menginspirasi kita, kesabaran itu menghasilkan kebaikan dalam kehidupan kita, wajar jika Allah SWT dalam Al Qur'an memberikan pahala sabar dengan pahala yang tiada terputus.
(Cw2/Nusantaraterkini.co).
