Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kisah Warga Dolok Nauli Selamat dari Longsor: Kami Lari di Tengah Gelap

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, TAPANULI UTARA - Ratusan warga Dusun Lobupining di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, masih bertahan di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Lobupining setelah bencana longsor dahsyat memaksa mereka meninggalkan rumah pada Rabu (26/11/2025) malam.

Longsor yang dipicu hujan berintensitas tinggi sejak awal pekan itu merusak puluhan rumah, menimbun sebagian di antaranya dengan material tanah dan bebatuan. Pohon-pohon besar yang tumbuh di lereng perbukitan tercabut dari akarnya, berguling ke jalan dan menimpa atap rumah warga. Hingga Kamis (27/11/2025) malam, tumpukan lumpur setebal betis orang dewasa masih terlihat di bahu jalan dusun. Pada Kamis siang jalan telah dibuka namun, warga dusun tidak punya rumah lagi.

Baca Juga : Bantu Komunikasi Warga Terdampak, Polda Sumut Gunakan Starlink di Kabupaten Taput

Mawarni Lumbantobing (64), salah seorang warga yang rumahnya tertimbun separuh, menceritakan detik-detik ketika longsor menerjang rumahnya. Saat itu, Rabu malam dia sedang bersantai bersama Suami dan anak gadisnya. Mereka menyaksikan berita bencana longsor yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, lewat handphone.

"Kami lagi menonton bencana di Kecamatan Sitahuis dari Facebook. Jadi yang kami lihat itu rumah bagus ditimpa tanah dari atas dan anaknya (pemilik rumah) meninggal," ucap Mawarni mencoba mengingat kembali awal kejadian longsor tersebut, di lokasi pengusian pada Kamis malam.

Mawarni prihatin setelah menyaksikan rekaman tersebut. Dia dan anak gadisnya masih sempat membayangkan seperti apa kondisi orang-orang di sana. Mereka juga turut berduka atas kejadian itu.

Baca Juga : Cerita Kades Dolok Nauli dan Harapannya ke Bupati Taput

"Kami juga masih sempat cerita-cerita. Hingga kami ingin mencoba tidur," ujar ibu dua orang anak ini.

Rumah Mawarni tak jauh dari Gereja. Lokasinyapun tepat berada di bawah lereng perbukitan. Sekitar pukul 20.30 WIB, mereka bertiga kemudian mencoba untuk tidur. Suasananya tenang kala itu. Beberap saat kemudian, ketenangan malam berubah. Mereka panik mendengar deru reruntuhan dari atas atap rumah.

"Rumah kami diterobos tanah. Tapi, kami masih baik-baik saja," jelas Mawarni.

Khawatir atas kondisi tersebut, Mawarni bersama suami dan anak gadisnya beranjak dari rumah. Begitupun dengan anaknya yang laki-laki yang telah menyusul. Mereka membawa barang-barang dan alas tidur. Rumah saudara yang tak jauh dari lokasi, terpaksa mereka tempati.

"Ayam di belakang rumah mati semua, dan dapur pun sudah hancur. Kami bergegas ke rumah saudara setelah anak gadis saya mengingatkan bahaya. Kamipun berkemas," ucapnya.

Tak lama mereka tiba di rumah saudara. Saat mereka hendak kembali tidur, suasana kembali berubah setelah dua jam mereka tiba. Longsor terjadi lagi. Untuk yang kedua suara deru reruntuhan terdengar lebih besar. Suaminya khawatir. Dan mereka kembali pindah.

Baca Juga : 7 Warga Tewas dan 17 Hilang Akibat Longsor Besar di Adian Koting Taput, Berikut Identitasnya

Mereka berjalan. Sementara Mawarni harus digendong karena kondisi kakinya sedang dibalut dengan kain berwarna putih. Mereka menuju pasar hitam. Masih di rumah saudaranya.

"Saat kami berjalan di jalan setapak, jalanan sudah berlumpur dan air juga tergenang. Saya tidak bisa berjalan karena kaki saya patah. Puji Tuhan kamu tiba di rumah saudara dengan selamat," tuturnya.

Keesokan harinya. Rabu pagi, pihak pemerintahan Desa mengimbau kepada seluruh warga untuk pindah ke gereja. Hingga kini, seluruh keluarga Mawarni selamat. Tapi tidak dengan pemukiman mereka.

"Saya belum berani ke lokasi rumah. Ada batu besar di atas bukit itu. Kita gak tahu kalau hujan terus bisa aja berguling. Saya takut," kata Mawarni.

Baca Juga : Pasokan Sibolga Lumpuh, Stok SPBU Sipaholon dan Tarutung Kosong, Siantar Termasuk

Dilain sisi, Kepala Desa Dolok Nauli, Jonas Aritonang, mengatakan jika lokasi geraja menjadi tempat yang jauh dari perbukitan.

"Lokasi gereja ini yang paling aman jauh dari perbukitan. Kami juga khawatir dengan cuaca hari ini makanya kami pilih juga di geraja ini," kata Jonas.

Saat ini, Gereja tersebut telah menampung lebih dari 100 Kepala Keluarga. Anak-anak duduk bergerombol di sudut ruangan, sementara para lansia tidur diatas alas seadanya. Untuk penerangan tambahan mereka sudah dibantu dengan alat pengantar listrik.

"Kita sudah juga perintahkan bidan desa kita untuk membawa stok obat. Kesehatan juga sudah kita sediakan seadanya," kata Jonas.

Semua aktivitas dilakukan di Gerja. Termasuk dapur darurat. Sementara relawan membagikan logistik seadanya, susu untuk anak-anak, beras dan juga telur.

Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Lumbantoruan,, yang meninjau lokasi pada Rabu malam, menyebut warga yang mengungsi di geraja berasal dari tiga dusun yang ada di Desa Dolok Nauli. Dan gereja adalah pusat pengungsian yang sejauh ini paling lengkap.

Baca Juga : Pembersihan Material Longsor Masih sampai Lobi Pining

"Ada beberapa posko lainnya. Di sini (geraja) lebih aman dan lebih banyak yang bisa ditampung. Disini juga ada akses internet dan fasilitas kesehatan," kata Deni.

Dia juga berharap bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumut cepat berlalu. "Kita doakan semoga baik-baik saja saudara kita," pungkas Deni.

(Cw7/Nuusantaraterkini.co)