Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR Arzeti Bilbina meminta Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya Es Moni yang merupakan minuman keras oplosan.
Pasalnya, minuman yang dibanderol dengan harga yang cukup murah dan dibumbui oleh minuman berperisa, membuat miras oplosan tersebut digandrungi oleh banyak orang, hingga membuat masyarakat resah.
Baca Juga : Sartono Hutomo Salurkan Bantuan Infrastruktur dan Dukung Penguatan UMKM
"Kandungan alkohol dalam arak sudah pasti sangat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi dicampur dengan bahan-bahan lain yang kita belum ketahui keamanannya. Belum lagi minuman beralkohol juga punya dampak-dampak sosial dan keamanan,” katanya, Sabtu (21/9/2024).
Baca Juga : DPR Soroti Permintaan Footage Gratis dari Kreator, Nilai Tak Etis dan Bebani Sineas
Es Moni diketahui dibuat dari bahan dasar arak tradisional dan dicampur dengan susu serta minuman berenergi saset pabrikan, lantas dikemas menyerupai es teh jumbo sehingga menurut Satpol PP cukup digandrugi anak muda karena rasanya dianggap enak dan menyegarkan. Apalagi harganya sangat murah yakni di kisaran Rp8-10 ribu per cup.
Bila sebelumnya Es Moni dijual di tempat hiburan malam dan warung, kini minuman keras oplosan tersebut juga banyak ditemukan di angkringan-angkringan
Untuk itu, Arzeti mengharapkan Pemerintah dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya mengonsumsi minuman alkohol oplosan, karena selain mengganggu pencernaan, minuman keras dapat merusak organ tubuh.
“Informasi-informasi seperti inilah yang harus disosialisasikan kepada masyarakat agar paham dampak dari mengkonsumsi minuman keras oplosan,” ungkapnya.
Selain itu, Arzeti juga menyoroti mudahnya akses Es Moni untuk didapatkan masyarakat dan khawatir pada dampak sosialnya, terutama bagi anak muda, terlebih anak remaja cenderung penasaran dan sedang dalam masa mencari jati diri, sehingga gampang terpengaruh tren.
"Maka penting sekali akses peredaran minuman alkohol oplosan ini dihentikan. Apalagi rasanya dianggap enak dan variatif, saya khawatir sekali anak-anak kecil yang tidak tahu kandungan Es Moni ini ikut-ikutan membelinya," tandasnya.
(cw1/Nusantaraterkini.co)
