Nusantaraterkini.co, MEDAN - Hari Kartini merupakan momen yang selalu dirayakan setiap tanggal 21 April di mana pun berada. Bagi Corporate Communication Officer PT Hutama Karya (Persero) Yovita Aufa Nabila, Kartini merupakan bukti bahwa perempuan bisa berdampak jauh melampaui ruang yang diberikan zamannya.
“Ketika bergabung di Hutama Karya (HK) tepatnya 2022 silam, saya merupakan perempuan muda yang masuk ke lingkungan BUMN kontruksi, sektor yang secara historís sangat maskulin,” katanya kepada nusantaraterkini.co pada Selasa (21/4/2026).
Saat itu, kenang Yovita, ini merupakan tantangan nyata bagi dirinya. “Bagaimana membuktikan relevansi seorang komunikator perempuan di tengah diskusi proyek-proyek teknik berskala nasional,” ujarnya.
Baca Juga : Sah! UU PPRT Resmi Disahkan DPR, Jamin Upah Layak dan Perlindungan PRT
Ia pun menjadikan komunikasi sebagai kekuatan, melalui inisiatif keterbukaan informasi, memproduksi ratusan materi komunikasi dan membangun narasi proyek infrastruktur yang menyentuh publik secara emosional.
Hasilnya, kata Yovita Aufa Nabila, HK mempertahankan predikat Badan Publik Informatif selama empat tahun berturut-turut dengan skor 97,38 tahun 2025.
“Itu bukti bahwa perempuan yang bekerja dengan integritas dan kompetensi bisa menggerakkan reputasi institusi besar,” katanya.
Baca Juga : Peringati Hari Kartini, Siswi SMKN 6 Medan Suarakan Martabat Perempuan
Mengenai peran perempuan di HK, Yovita Aufa Nabila menyatakan peran perempuan di sini bukan sebagai pelengkap. “Kami adalah penerjemah antara infrastruktur dan masyarakat. Konstruksi identik dengan beton, teknik dan lapangan,” akunya.
Ia mengaku dirinya mengelola media relations, menyusun narasi kampanye eksternal. Mengingat perempuan membawa ketelitian, empati, serta pendekatan kolaboratif yang menjadi added value nyata. “Bukan hanya mengisi posisi, tapi menentukan kualitas narasi perusahaan di mata publik nasional,” katanya.
Tantangan Perempuan di Dunia Kerja
Corporate Communication Officer PT Hutama Karya (Persero) Yovita Aufa Nabila menyatakan tantangan terbesar bagi dirinya bukan soal gender, melainkan perihal membuktikan kapabilitas lebih cepat dari ekpektasi orang lain.
Baca Juga : Rest Area di Jalur Tol Trans Sumatera Buka Ruang Pengembangan Pasar UMKM
“Masuk sebagai staf junior di divisi komunikasi BUMN infrastruktur besar, di usia awal 20-an, dengan latar belakang ilmu komunikasi dari perguruan tinggi di luar Pulau Jawa, saya harus mengelola isu-isu publik sensitif, berkoordinasi dengan stakeholder, sekaligus menjaga konsistensi citra perusahaan. Semuanya dalam waktu bersamaan,” katanya.
Untuk itu, akunya, dirinya tidak menunggu. Ia jemput bola dengan aktif meningkatkan kompetensi sehingga meraih dua sertifikasi BNSP (Certified Public Media Relations Officer dan Certified Junior PR Officer), mengikuti pelatihan di Kompas Institute, Politeknik Tempo, PR Indonesia, hingga World Public Relations Forum di Bali 2024.
“Saya juga mengambil inisiatif memimpin event berskala nasional dan menjadi head of event di 20 agenda korporat besar.
Baca Juga : Libur Hari Buruh 2026: 470 Ribu Kendaraan Lintasi Tol Trans Sumatera, Trafik Naik 17 Persen
Dalam kurun tiga tahun, saya berkontribusi pada 7 penghargaan nasional, termasuk Gold Winner AHI 2025, Gold Winner MRA 2025, dan Bronze Winner ICCS 2025. Prestasi itu berbicara lebih keras dari bias apapun,” ujarnya.
Relevansi Semangat Kartini bagi Yovita Aufa Nabila
Masalah Kartini, kata Yovita Aufa Nabila, belum selesai, hanya berganti wajah. Dulu, katanya, perempuan dilarang mengakses pendidikan. Sekarang aksesnya ada tapi glass ceiling, bias tidak terucap dan beban ganda masih nyata dibanyak lingkungan kerja.
“Yang Kartini ajarkan adalah keberanian untuk tidak menunggu izin. Saya menerapkannya dengan terus bergerak maju, ambil peluang, perkuat kompetensi, dan hasilkan dampak yang tak bisa diabaikan. Saya juga aktif di Perhumas, ikut forum dan workshop nasional untuk mendorong ekosistem PR yang lebih inklusif dan profesional,” terangnya.
Ketika perempuan muda melihat rekan-rekannya di BUMN bisa meraih penghargaan nasional dan duduk di forum strategis bersama pejabat pemerintah, itu menjadi bukti hidup bahwa semangat Kartini bukan nostalgia melainkan blueprint yang masih bekerja.
Ia mengaku, banyak perempuan muda masih ragu masuk ke sektor konstruksi dan infrastruktur karena merasa itu bukan dunianya. Padahal sektor ini justru sangat membutuhkan perspektif yang lebih beragam dan perempuan yang berani hadir di sana punya peluang untuk benar-benar membuat perbedaan.
“Saran saya satu, jangan hanya deliver apa yang ditugaskan. Kalau diberi satu tugas, pikirkan dampak tiga langkah ke depannya. Prinsip saya: tugas adalah floor, bukan ceiling. Standar minimal itu titik awal, bukan tujuan akhir,” terang Yovita Aufa Nabila.
Ketika perempuan muda membuktikan bahwa dirinya bisa melampaui ekspektasi secara konsisten, akunya, di situlah kepercayaan dibangun, ruang diperluas, dan karier berkembang bukan karena diberikan, tapi karena dimenangkan.
“Harapan saya, semakin banyak perempuan di sektor strategis yang tidak sekadar ada, tapi berbekas,” harapnya.
(Akb/nusantaraterkini.co)
