Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Menlu Iran Peringatkan AS: Jangan Biarkan Netanyahu Hancurkan Diplomasi dan Gencatan Senjata

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menghadiri konferensi pers bersama di Teheran, Iran, pada 18 Januari 2026. (Foto: Xinhua/Shadati)

Nusantaraterkini.co, TEHERAN - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Kamis (9/4/2026) memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak membiarkan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu membunuh diplomasi, di tengah gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku setelah 40 hari pertempuran.

"Sidang pidana Netanyahu akan dilanjutkan pada Minggu (12/4/2026). Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya," kata Araghchi dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

Dia menambahkan, jika AS membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pada akhirnya akan menjadi pilihannya (AS).

Baca Juga : Trump Sebut Respons Iran Terhadap Proposal Damai AS Tidak Dapat Diterima

"Kami rasa pilihan tersebut bodoh, tetapi kami siap menghadapinya," sebutnya. 

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menulis di X bahwa waktu hampir habis, seraya menekankan bahwa Lebanon dan poros-poros perlawanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gencatan senjata.

Baca Juga : Israel Tambah Anggaran Pertahanan hingga Rp1.800 Triliun, Borong Jet Tempur F-35 dan F-15IA dari AS

Sebelumnya, pada Kamis yang sama, Araghchi juga membahas gencatan senjata dengan menlu-menlu Rusia, Prancis, Spanyol, dan Jerman melalui panggilan telepon terpisah, ungkap pernyataan yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran.

Baca Juga : Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon, GREAT Institute: Benjamin Netanyahu Harus Bertanggungjawab

Araghchi mengatakan kepada Menlu Rusia Sergei Lavrov bahwa Iran mengambil pendekatan yang bertanggung jawab, dan bahwa jalur aman melalui Selat Hormuz, yang dijanjikan selama dua pekan dalam gencatan senjata, akan diberikan jika AS mematuhi komitmennya.

Dalam percakapan telepon dengan Menlu Prancis Jean-Noel Barrot, Araghchi menyatakan penyesalannya atas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel dan serangan terhadap Lebanon, serta mendesak aksi internasional. Barrot menyambut baik gencatan senjata tersebut dan menekankan perlunya menghentikan serangan Israel terhadap Lebanon.

Menlu Spanyol Jose Manuel Albares menyebut serangan terhadap Iran sebagai "ilegal", dan mendesak semua pihak untuk tetap berkomitmen pada jalur diplomatik.

Gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran mulai berlaku pada Rabu (8/4/2026), dengan pembicaraan damai dijadwalkan akan dimulai akhir pekan ini di Islamabad, Pakistan. Pihak Iran dilaporkan akan dipimpin oleh Qalibaf.

Israel menyatakan, gencatan senjata itu tidak mencakup konflik di Lebanon, sebuah posisi yang dibantah oleh Iran dan mediator Pakistan. Beberapa jam setelah gencatan senjata berlaku, Israel melancarkan serangan terbesarnya dalam sehari terhadap Lebanon, yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai lebih dari 1.100 lainnya.

(*/nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua