Nusantaraterkini.co, JAKARTA–Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global. Menurut Misbakhun, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa kebijakan pemerintah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas perekonomian.
“Di tengah tekanan global seperti sekarang, angka 5,61 persen ini menunjukkan ekonomi kita cukup tangguh. Artinya, kebijakan pemerintah berjalan di jalur yang tepat,” ujar Misbakhun, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga : Ekonom Senior Kritik Pertumbuhan Ekonomi: Angka Tinggi Tapi Rakyat Makin Miskin
Politikus Partai Golkar itu menyebut angka tersebut sebagai salah satu pertumbuhan kuartalan tertinggi pada periode pascapandemi. Ia menilai bauran kebijakan pemerintah dinilai cukup efektif dalam meredam dampak gejolak eksternal.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Lanjut Naik ke 7.185, Ini Strategi dan Rekomendasi Saham Pilihan
Selain lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 juga tercatat melampaui kisaran asumsi pertumbuhan yang ditetapkan dalam APBN. Misbakhun menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi. Momentum Ramadan dan Idulfitri dinilai memberi dorongan signifikan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
Di sisi lain, pemulihan pada sektor perdagangan, industri pengolahan, pertambangan, dan transportasi juga turut menopang pertumbuhan. Ia menambahkan, sektor energi masih memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional. Namun, menurutnya, tekanan harga energi global tetap harus diwaspadai karena berpotensi memengaruhi inflasi dan kondisi fiskal.
Baca Juga : Pemerintah Diminta Waspadai Pertumbuhan Ekonomi yang Bergantung pada Belanja Negara
“Momentum harga energi memberi dorongan, tapi juga membawa risiko ke inflasi dan fiskal. Di sini peran kebijakan harus presisi,” katanya.
Baca Juga : Pj Sekda Ungkap Fondasi Ekonomi Sumut Menguat, Investasi Tembus Rp58 Triliun di 2026
Misbakhun menegaskan capaian pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan hasil konsistensi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan dalam menghadapi tekanan global, termasuk dampak krisis energi akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, ia mengingatkan risiko eksternal masih cukup tinggi. Ia menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah sekitar 3,88 persen serta penurunan cadangan devisa sebesar USD 8,4 miliar sebagai indikator kuatnya pengaruh kondisi global terhadap ekonomi domestik.
“Ini yang harus diantisipasi. Tekanan ke rupiah dan cadangan devisa menunjukkan kita masih sangat dipengaruhi kondisi global,” jelasnya.
Misbakhun juga menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi energi dan pangan. Menurut dia, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat investasi dan ekspor agar struktur pertumbuhan ekonomi nasional tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik.
Di sektor fiskal, Misbakhun menegaskan APBN harus tetap berfungsi sebagai shock absorber yang kredibel dan tepat sasaran di tengah dinamika global yang masih berlangsung.
“APBN harus kuat dan fleksibel, tapi penggunaannya harus disiplin agar kredibilitas fiskal tetap terjaga,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
