Nusantaraterkini.co - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah memutuskan menggandakan pendanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) kepada petani rakyat. Awalnya dana yang diterima hanya Rp 30 juta per hektare, kini meningkat menjadi Rp 60 juta per hektare.
"Kami juga usulkan kenaikan dana replanting yang sekarang di berikan Rp 30 juta itu untuk dinaikkan ke Rp 60 juta," kata Airlangga usai melakukan rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dilansir dari detikcom, Selasa, (27/2/2024).
Airlangga menjelaskan anggaran tersebut ditingkatkan menjadi Rp 60 juta per hektare, lantaran seiring dengan penelitian ilmiah dan komunikasi langsung dengan para petani sawit.
Baca Juga : Kenaikan Tiket Hingga 13 Persen Disorot, Sari Yuliati: Negara Jangan Bebani Rakyat
Menurutnya, para petani sawit yang mendapatkan bantuan program peremajaan sawit mengalami kesulitan karena bantuannya hanya Rp 30 juta per tahun. Biaya tersebut hanya cukup untuk satu tahun penggunaan operasional, sementara itu, hasil sawit baru bisa dipanen selama 4 tahun.
"Kenapa harus dinaikkan Rp 60 juta? Karena dari hasil kajian naskah akademik dan juga komunikasi dengan para pekebun itu untuk replanting mereka baru bisa berbuah di tahun ke 4, sehingga kalau dananya hanya Rp 30 juta itu hanya cukup untuk mereka hidup di tahun pertama. Beli bibit lalu hidup di tahun pertama saja," papar Airlangga.
Dengan dana bantuan tambahan ini, diharapkan juga para petani dapat memberikan petani tambahan biaya hidup. Termasuk dana untuk modal menanam tanaman penutup tanah, sambil menunggu hasil sawit.
Baca Juga : Krisis Energi Mengintai, WFH Dinilai Bukan Jawaban Fundamental
"Oleh karena itu kalau ditingkatkan menjadi Rp 60 juta, maka biaya hidup, sekitar Rp 15 juta per tahun itu bisa di-cover, sehingga mereka bisa melakukan tanaman sela atau tanaman lain untuk menunjang," jelas Airlangga.
(Ann/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Detikcom
