Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Persatuan ASEAN-China Pertahanan Terbaik Asia dalam Hadapi Perang Dagang

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kereta logistik rantai dingin (cold -chain) internasional pertama di Jalur Kereta China-Laos (Vientiane-Kunming-Beijing Pinggu) yang mengangkut pisang berhenti di Pusat Logistik Jing Ping di Distrik Pinggu, Beijing, ibu kota China, pada 20 Oktober 2024. (Foto: Xinhua/Ren Chao)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Sistem perdagangan global, yang merupakan pilar kemakmuran bersama, kini berada di bawah ancaman. Momok proteksionisme perdagangan, yang dipicu oleh tarif ekstensif Washington terhadap mitra-mitra dagang utamanya, mengancam akan menghancurkan kemajuan ekonomi yang telah dicapai selama puluhan tahun.

Bagi ASEAN, sebuah kawasan yang pertumbuhannya didorong oleh pasar terbuka, hal ini bukanlah badai yang mengamuk di jarak jauh, melainkan krisis yang akan segera terjadi. Kini, lebih dari sebelumnya, Asia Tenggara dan Tiongkok harus membentuk sebuah front yang bersatu untuk melawan kekuatan-kekuatan perusak kestabilan ini dan memperjuangkan perdagangan bebas sebagai landasan bagi masa depan ekonomi bersama.

Kemitraan ekonomi ASEAN-China sudah lama menjadi model kemitraan yang saling menguntungkan. Sejak tahun 2009, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar bagi ASEAN, sementara ASEAN menggeser posisi Uni Eropa (UE) sebagai mitra dagang terbesar bagi Tiongkok pada tahun 2020.

Sinergi ini bukanlah suatu kebetulan. Pasar konsumen Tiongkok yang besar sangat selaras dengan perekonomian-perekonomian ASEAN yang dinamis dan didorong oleh ekspor. Dari produk elektronik Vietnam hingga minyak kelapa sawit Indonesia dan suku cadang otomotif Thailand, produk-produk Asia Tenggara mengalir masuk ke pelabuhan-pelabuhan di China, sementara investasi dan teknologi China meningkatkan infrastruktur dan inovasi di seluruh kawasan tersebut.

Baca Juga: Wall Street Bangkit Dipicu Investor Memburu Barang Murah di Akhir Pekan

Namun, kesalingbergantungan (interdependensi) kini terancam. Munculnya kebijakan “America First” yang ditandai dengan tarif, kontrol ekspor, dan reshoring rantai pasokan, telah menyebabkan gelombang guncangan pada perekonomian global.

Meski ASEAN belum menjadi target utama, surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) yang signifikan di kawasan itu (di mana semua negara anggota ASEAN, kecuali Singapura, mengalami surplus pada tahun 2024) termasuk dalam rentan. Para analis memperingatkan bahwa perekonomian-perekonomian yang bergantung pada ekspor, seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia, dapat menghadapi kehancuran ekonomi yang serius jika terseret ke dalam perang dagang yang sedang meruncing.

Perang dagang yang ditimbulkan oleh AS menampilkan kenyataan pahit. Di dunia yang saling terhubung saat ini, tarif bukanlah serangan terarah (surgical strike), melainkan bom klaster ekonomi.

Ketika Washington menaikkan pungutan atas barang-barang Tiongkok, bukan hanya pabrik-pabrik Tiongkok yang menderita. Pabrik semikonduktor di Malaysia, pemasok komponen di Thailand, dan eksportir bahan baku di Indonesia, yang semuanya merupakan mata rantai tak terpisahkan dalam rantai pasokan global, ikut merasakan dampaknya. Investasi berhenti, ekspor merosot, dan menjadi normal kembali.

Untuk mengatasi ancaman yang semakin meningkat ini, ASEAN dan Tiongkok harus bergerak lebih dari sekedar retorika dan melakukan tindakan yang berani dan terkoordinasi.

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), yang mencakup 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) global, merupakan sarana yang kuat. Selain itu, kesimpulan penting dari negosiasi Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Area/ACFTA) 3.0 pada Oktober tahun lalu menandai sebuah langkah penting untuk memperkuat perekonomian regional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan memangkas tarif lebih lanjut, menyelaraskan standar, dan mewujudkan regulasi, ASEAN dan Tiongkok dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat terhadap guncangan eksternal.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Berusaha Rebound Dipicu Perang Dagang Menghantam Prospek Ekonomi Global dan Permintaan Ekonomi

Mengurangi besarnya ketergantungan ASEAN pada pasar Barat juga sama pentingnya. Dengan menghilangkan hambatan nontarif, meningkatkan infrastruktur, dan memperluas kerangka kerja perdagangan digital, ASEAN dapat membuka potensi ekonomi yang luar biasa.

Investasi gabungan di bidang logistik, teknologi ramah lingkungan, dan mineral penting bisa semakin memperkuat rantai pasokan ASEAN-China, sehingga tidak terlalu rentan terhadap gangguan geopolitik.

Di tingkat global, ASEAN dan Tiongkok harus memimpin upaya gabungan untuk menegakkan multilateralisme. Upaya terkoordinasi di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan G20 dapat memperkuat suara negara-negara berkembang dan menekan kekuatan-kekuatan proteksionis untuk melakukan "kalibrasi ulang" kebijakan mereka.

Sebagai ketua bergilir ASEAN tahun ini, Malaysia berperan sangat penting dalam memanfaatkan kekuatan diplomatiknya guna mendorong agenda perdagangan yang bersatu padu.

Alternatifnya, sebuah dunia yang terfragmentasi dan proteksionis, adalah dunia di mana perekonomian-perekonomian yang lebih kecil berisiko terjebak dalam pertempuran perang dagang yang dipicu oleh AS.

ASEAN dan Tiongkok harus memilih kerja sama daripada perpecahan, memilih visi jangka panjang daripada proteksionisme jangka pendek. Jalan menuju kemakmuran yang berkelanjutan tetap terbuka asalkan ASEAN dan Tiongkok berjalan bersama.

(Zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua