Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pertamina mewacanakan penghapusan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite oleh Pemerintah pada tahun ini, atau diganti dengan BBM jenis Pertamax Green RON 92.
Menanggapi hal itu, Anggota Komisi VI DPR, Amin Ak menilai wacana ini dari transisi energi sangat baik. Namun kata Amin yang harus dipikirkan yakni konsekuensi adanya kenaikan harga BBM. Pasalnya, harga Pertamax Green 92 lebih mahal dibandingkan Pertalite.
Baca Juga : Bongkar Sindikat BBM Oblosan, Polda Sumsel Tangkap 11 Tersangka
Dijelaskan Amin, Pertamax Green 92 ini kandungannya ditambah Bioetanol yang saat ini bahannya masih impor. Sebab itu, Amin tidak ingin wacana penghapusan Pertalite ini hanya menguntungkan importir.
Baca Juga : Berlaku Mulai Hari Ini, Pembelian BBM Subsidi Kendaraan Pribadi Dibatasi Maksimal 50 Liter
“Jangan sampai yang diuntungkan importir-importir. Sekali lagi bukan berarti kita tidak mendukung terwujudnya green energy,” katanya, Kamis (13/6/2024).
Sebab itu, politisi PKS ini meminta Pertamina ini kedepan atas wacana dapat mengambil kebijakan yang berpihak pada rakyat.
Baca Juga : Produk Impor Senilai 5 Miliar Disita, Komisi VII DPR Dukung Kemenperin Tindak Tegas Importir Nakal
Selain itu, Amin juga mempertanyakan mengenai wacana pengadaan Bahan Bakar Nabati (BBN) yang juga dikenal dengan biomassa, yang merupakan sumber energi yang dihasilkan dari bahan organik tumbuhan ataupun hewan.
Baca Juga : Satgas Pengawasan Diminta Sasar Mafia Impor Ilegal
Menurut Amin, BBN ini prospek ke depannya sangat baik karena nantinya Indonesia tidak perlu lagi impor BBM.
“Pertanyaan saya sudah dah kita punya roadmap untuk menwujudkan apa yang disampaikan oleh Bu Dirut itu tentang Bahan Bakar Nabati? Kapan ini dapat diwujudkan? Atau hanya sebagai wacana yang menghibur buat kita semua,” tandasnya.
(cw1/nusantaraterkini.co)
