Nusantaraterkini.co, SAMOSIR - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung Kementerian ESDM melakukan survei terkait adanya peristiwa pergerakan tanah di Desa Parlondut Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Kamis (31/10/2024).
Survei ini sebagai upaya percepatan penanggulangan yang akan dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Samosir ke depan.
Baca Juga : Sebanyak 360 Ribu Wisatawan Padati Destinasi di Sumut Saat Lebaran
Tim penyidik bumi PVMBG yang dipimpin Kibar Muhammad Suryadana turun langsung melakukan peninjauan sekaligus melakukan kajian dan penelitian untuk memastikan penyebab terjadinya bencana longsor atau pergesaran tanah yang menyebabkan retakan terhadap beberapa rumah dan perladangan warga.
Baca Juga : Kejati Sumut Tahan GM PT Yodya Karya Terkait Korupsi KSPN Danau Toba Senilai Rp13 Miliar
Hasil survei ini akan menjadi dasar bagi pemerintah Kabupaten Samosir untuk melakukan tindak lanjut penanganan infrastruktur yang rusak.
Penyidik Bumi PVMBG Kementerian ESDM Kibar Muhammad Suryadana menjelaskan, pergerakan tanah di Desa Parlondut merupakan tipe lambat atau rayapan dimana terjadi akibat litelogi batuan hasil erupsi gunung.
Baca Juga : 114 Rumah Rusak Berat Akibat Pergerakan Tanah di Brebes
"Biasa terjadi akibat litelogi batuan hasil produk erupsi gunung api yang ada di daerah tersebut, bisa juga diakibatkan kondisi morfologi yaitu daerah yang berada pada cekungan atau lembah yang dapat menjadi segmen area pergerakan tanah, dimana setiap ada curah hujan yang tinggi air akan berlimpah dan basah sehingga mengakibatkan adanya pergeseran tanah. Pemicu pergeseran tanah di Desa Palondut adalah curah hujan yang cukup tinggi sehingga mengakibatkan gerakan tanah yang besar," ucapnya.
Baca Juga : Pergerakan Tanah di Cianjur, Warga Sebut Diawali Gemuruh hingga Rumah-rumah Ambruk
Tim PVMBG melakukan survey permukaan tanah dan pengambilan foto udara dengan metode fotogrametrik, selanjutnya akan dilakukan pemetaan. Secara akurat hasilnya akan diserahkan kepada Pemkab. Samosir sebagai dasar tindak lanjut penanganan daerah tersebut.
“Hitungan sementara ada 10-12 ha tanah yang berpotensi mengalami gerakan tanah kembali. Hasil kajian tersebut akan kita buat dalam peta laporan situasi gerakan tanah yang berisi rekomendasi yang selanjutnya menjadi dasar Pemkab Samosir dalam tindak lanjut penanganan kedepan," jelasnya.
Baca Juga : Gunung Dempo Erupsi, Jalur Pendakian Ditutup Total Mulai Hari Ini
Ia juga mengatakan bahwa area yang sudah terdampak saat ini baik infrastruktur jalan dan rumah penduduk baiknya direlokasi karena besar kemungkinan gerakan tanah akan tetap terjadi dan terulang.
Baca Juga : Gunung Dukono Erupsi Lagi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 1.600 Meter
“Area pemukiman yang terdampak baik jalan dan rumah penduduk segera direlokasi ketempat lebih aman, karna kemungkinan terjadi gerakaan tanah terulang ketika hujan deras. Untuk lahan pertanian masih bisa diusahai masyarakat dan ada baiknya dengan tanaman keras untuk memperlambat gerakan tanah," tandasnya.
(Cw8/Nusantaraterkini.co)
