Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus level Rp17.300 per dolar AS menjadi sinyal peringatan serius bagi stabilitas ekonomi nasional.
Kondisi ini dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi, terutama akibat kenaikan harga barang impor dan biaya produksi.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada
Anggota Komisi XI DPR Bertu Merlas meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk meredam dampak pelemahan rupiah tersebut.
Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertekan ke Rp17.385 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Baru
“Kondisi rupiah saat ini harus menjadi alarm bagi pemerintah. Pelemahan ini berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. Jika harga barang naik sementara pendapatan masyarakat stagnan, daya beli akan terpuruk,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dapat menimbulkan efek domino terhadap industri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi berpotensi dibebankan kepada konsumen melalui peningkatan harga barang, yang pada akhirnya menekan kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga : Dolar AS Menguat, Rupiah Terseret ke Rp16.779 di Akhir Pekan
Selain itu, Bertu mengingatkan pentingnya pengendalian inflasi, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang paling rentan terdampak.
Baca Juga : Ekonom Senior Kritik Pertumbuhan Ekonomi: Angka Tinggi Tapi Rakyat Makin Miskin
“Tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok, risiko ketidakstabilan sosial ekonomi akan semakin terbuka lebar,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti dilema kebijakan moneter. Upaya bank sentral menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah dinilai berisiko memperketat akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca Juga : Misbakhun: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional
“Jika suku bunga meningkat, akses pembiayaan bagi UMKM semakin sulit. Ini berdampak pada aktivitas usaha dan berpotensi menghambat penyerapan tenaga kerja,” tambahnya.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, Bertu mengusulkan tiga langkah strategis yang perlu segera dilakukan pemerintah. Pertama, memperkuat operasi pasar dan memastikan distribusi bahan pokok berjalan lancar guna mencegah lonjakan harga.
Kedua, memastikan bantuan sosial tepat sasaran agar kelompok rentan tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar. Ketiga, memberikan kemudahan akses pembiayaan serta insentif fiskal bagi UMKM agar tetap produktif.
“Mengendalikan inflasi adalah kunci utama. Pemerintah harus memastikan pasokan aman dan harga stabil. Subsidi dan bantuan sosial harus benar-benar sampai kepada yang berhak,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
