Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Tertekan, Emiten Berbasis Impor Terpukul: Saham Ekspor Justru Diuntungkan di Tengah Rekor IHSG

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi mata uang Rupiah dan Dollar AS. (Foto: Antara).

Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan tersendiri bagi kinerja emiten, khususnya yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor. Kondisi ini terjadi di tengah euforia pasar saham domestik, setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis (15/1/2026).

Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai pergerakan rupiah memiliki dampak langsung terhadap profitabilitas emiten. Tekanan paling nyata dirasakan oleh perusahaan dengan struktur biaya berbasis dolar AS, baik dari sisi impor bahan baku maupun kewajiban utang valas.

Sektor Impor Paling Rentan Tertekan

Baca Juga : IHSG Berpeluang Cetak Rekor Baru, INET, JPFA hingga SMRA Jadi Sorotan

Menurut Hendra, dalam jangka pendek sektor manufaktur, farmasi, otomotif, hingga barang konsumsi non-primer menjadi kelompok yang paling rentan terdampak pelemahan rupiah. Kenaikan nilai tukar dolar otomatis meningkatkan biaya produksi, sementara ruang untuk menaikkan harga jual masih terbatas akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Pelemahan rupiah berpotensi langsung menggerus margin laba emiten yang bergantung pada impor. Di sisi lain, kondisi pasar belum cukup kuat untuk sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya ke konsumen,” ujar Hendra kepada Mureks, Jumat (16/1/2026).

Selain itu, sektor properti juga berpotensi terdampak secara tidak langsung. Kenaikan biaya material konstruksi serta kemungkinan respons kebijakan moneter dari Bank Indonesia demi menjaga stabilitas nilai tukar dapat menambah tekanan bagi sektor ini.

Baca Juga : IHSG Cetak Rekor Baru, Kapitalisasi Pasar BEI Tembus Rp16.512 Triliun, Asing Borong Saham Rp7,3 T

Emiten Ekspor Berpeluang Raup Keuntungan

Di tengah tekanan tersebut, pelemahan rupiah justru membuka peluang bagi emiten berorientasi ekspor. Sektor komoditas energi, pertambangan mineral, hingga sebagian emiten perkebunan dinilai relatif lebih tahan terhadap fluktuasi nilai tukar.

“Emiten berbasis ekspor berpotensi memperoleh tambahan pendapatan karena mayoritas penjualan mereka menggunakan dolar AS. Namun, volatilitas harga komoditas global tetap menjadi faktor risiko yang perlu dicermati,” jelas Hendra.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp17.382 per Dolar AS, Tekanan Global Bikin Pasar Waspada

Dampak Rupiah terhadap Pergerakan IHSG

Meski IHSG berhasil mencetak rekor, pergerakannya tetap sensitif terhadap dinamika nilai tukar. Bobot saham perbankan dan emiten domestik yang besar membuat pelemahan rupiah kerap dipersepsikan investor sebagai sinyal meningkatnya risiko makro.

“Secara psikologis, pelemahan rupiah sering diartikan sebagai meningkatnya risiko eksternal, sehingga investor asing cenderung menahan aliran dana atau melakukan aksi ambil untung,” tambah Hendra.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Tertekan ke Rp17.385 per Dolar AS, Sentuh Level Terlemah Baru

IHSG Tetap Rekor di Tengah Tekanan Global

Pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026), IHSG menguat 0,47% ke level 9.075,40, melampaui rekor penutupan sebelumnya di 9.032,58. Penguatan ini terjadi meski pasar global dan nilai tukar rupiah berada dalam tekanan.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut IHSG masih berada dalam fase tren naik (uptrend) dan secara teknikal telah mendekati target jangka pendek di area 9.100.

“Sektor perbankan berkapitalisasi besar menjadi motor utama penguatan IHSG, disusul consumer cyclical. Dari sisi teknikal dan sentimen, saham perbankan masih menarik, didukung ekspektasi dividen dan valuasi yang relatif atraktif,” ujar Herditya.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 9.004,99 hingga 9.100,82. Sebanyak 339 saham menguat, 331 saham melemah, dan 133 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp28,1 triliun dengan kapitalisasi pasar menembus Rp16.511 triliun. Sementara itu, rupiah bergerak di kisaran Rp16.880 per dolar AS.

Performa Sektoral Beragam

Kinerja sektoral tercatat bervariasi. Sejumlah sektor mengalami koreksi, sementara sektor lainnya menopang laju IHSG.

Sektor melemah:

Industri (-2,31%)

Transportasi (-0,97%)

Basic materials (-0,76%)

Energi (-0,21%)

Kesehatan (-0,18%)

Properti (-0,43%)

Sektor menguat:

Consumer nonsiklikal (+0,20%)

Consumer siklikal (+1,15%)

Keuangan (+1,14%)

Teknologi (+0,58%)

Infrastruktur (+0,13%)

(Dra/nusantaraterkini.co)