Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Sumut Prioritaskan Konservasi Mangrove untuk Ketahanan Pesisir dan Kesejahteraan Masyarakat Lokal

Editor :  Rozie Winata
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Media Gathering konservasi mangrove di Medan. (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menjadi salah satu dari empat provinsi prioritas dalam program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). 

Program ini bertujuan merehabilitasi mangrove di sepanjang pesisir, dengan target luas 6.078 hektar hingga tahun 2027.

Baca Juga : DPR Soroti Permintaan Footage Gratis dari Kreator, Nilai Tak Etis dan Bebani Sineas

Program ini mencakup 12 kabupaten, 34 kecamatan dan 93 desa, termasuk Desa Pasar Rawa di Kabupaten Langkat yang menjadi contoh nyata upaya konservasi mangrove yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Baca Juga : Perkuat Ekonomi Hijau dan Biru, Sumut Kolaborasi dengan Konservasi Cakrawala Indonesia

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Maju Bersama Kasto Wahyudi yang turut terlibat dalam program ini berbagi pengalaman perubahan yang terjadi sejak penanaman mangrove di Desa Pasar Rawa.

"Sebelumnya, kami sering khawatir dengan abrasi dan gelombang tinggi yang mengancam desa kami. Namun, sejak penanaman mangrove, pantai kami lebih terlindungi. Selain itu, kami juga mulai memanfaatkan mangrove untuk mendukung perekonomian keluarga kami, seperti membuat kerupuk ikan baronang dan produk lainnya," jelasnya dalam kegiatan media gathering, Minggu (1/12/2024).

Baca Juga : Zakiyuddin Harahap: Penanganan Banjir Rob Belawan Membutuhkan Peran Lintas Sektoral

Sementara itu, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Hartono Prawiraatmaja mengatakan, Melalui program M4CR ini, pihaknya tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Baca Juga : Menilik Pesona Hutan Bakau di Bekasi Jawa Barat

"Salah satu manfaat nyata yang kami lihat adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru yang lebih berkelanjutan," katanya.

Dari kunjungan ke lokasi rehabilitasi mangrove di Kabupaten Langkat dan Deliserdang, terlihat bagaimana upaya restorasi mangrove telah berhasil mengubah wajah pesisir.

Di beberapa desa tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan perlindungan dari ancaman abrasi, tetapi juga memanfaatkan hasil hutan mangrove untuk kegiatan produktif yang meningkatkan pendapatan, seperti pembuatan gula nipah dan batik berbahan pewarna alami dari mangrove.

Dalam kesempatan itu pula, tokoh masyarakat dan pegiat lingkungan berbagi cerita mengenai manfaat mangrove dalam melindungi desa mereka dari ancaman alam dan juga membuka peluang ekonomi baru.

Di beberapa wilayah di Langkat, banyak keluarga kini menggantungkan hidup mereka pada produk turunan mangrove yang semakin diminati pasar.

Seperti diketahui, Provinsi Sumut memiliki luas mangrove yang signifikan dan menjadi garda terdepan dalam pemulihan ekosistem pesisir Indonesia.

Sebagai negara dengan sekitar 23% dari total ekosistem mangrove dunia, Indonesia berkomitmen untuk menjaga kekayaan alam ini dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam upaya konservasi.

Direktur SKK Madrasah, Muchammad Sidik Sisdiyanto menegaskan, konservasi mangrove bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang memberi harapan baru bagi perekonomian masyarakat pesisir yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)