nusantaraterkini.co, ACEH - Masyarakat Aceh mulai resah dengan keberadaan ribuan pengungsi etnis Rohingya. Mereka menilai perilaku dari etnis Rohingya itu tidak sesuai dengan syariat Islam.
Hal ini dikatakan Kepala Kantor Dirjen Imigrasi Aceh, Novianto Sulaksono, saat rapat dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Senin (24/2/2025).
“Masyarakat Aceh akhir-akhir hari ini merasa resah, karena para pengungsi sudah ada beberapa yang tidak sesuai dengan syariat Islam, sehingga masyarakat mengkhawatirkan itu,” kata Novianto.
Baca Juga : 93 Pengungsi Etnis Rohingya Diamankan di Terminal Tipe A Langsa saat Hendak Menuju Kota Medan
Pengungsi Rohingya paling banyak berada di Pidie. Jumlahnya mencapai 600-an orang. Ia mengatakan, terkait penanganan pengungsi itu memang sudah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 125/20216. Ia menilai aturan tersebut perlu dikaji ulang.
“Kiranya perlu dipertegas lagi siapa berbuat apa, dan apa yang harus dilakukan. Serta yang terpenting juga kami melihat di sini anggaran masih belum jelas untuk penanganan pengungsi,” tuturnya.
Novianto menjelaskan penyebab warga Aceh menjadi resah dengan hal tersebut karena beberapa pengungsi itu tidak sesuai dengan syariat Islam sebagaimana yang ditegakkan di Aceh.
Baca Juga : Pengungsi Rohingya di Langkat Mulai Menghilang, Diduga Diperjualbelikan ke Malaysia
“Terhadap permasalahan pengungsi adalah, satu pelecehan antara sesama pengungsi di tempat, pengungsi melarikan diri yang dicurigai kabur ke Malaysia menggunakan jaringan TPPO,” ujar dia dikutip kumparan, Senin (24/2/2025).
Novianto juga mengusulkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan penempatan ke negara yang sukarela menerima atau dipindahkan ke satu pulau khusus.
"Penolakan terhadap rencana penambahan pengungsi Rohingya yang baru di tempat penuh darurat, kecemburuan sosial masyarakat terhadap pengungsi Rohingya, belum terdapatnya anggaran,” pungkasnya.
(Dra/nusantaraterkini.co).
