Nusantaraterkini.co, TAPTENG - Darmanto Sitompul (55) tak kuasa menahan tangis saat menceritakan hidupnya pascabencana longsor di Desa Sait Kalangan II, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Kebun yang selama ini menjadi satu-satunya tumpuan hidup keluarganya kini tertutup batu, lumpur, dan kayu. Tanaman rusak, sebagian mati. Akses jalan terputus. Sejak itu, tak ada lagi pemasukan.
Baca Juga : Banjir Rendam 23 Desa di Kendal, Lebih dari 9 Ribu Warga Terdampak
“Artinya kebun itu bekal hidup kami sehari-hari. Dari situlah kami biayai makan dan uang sekolah anak,” ucapnya lirih, Jumat (16/1/2026).
Kini, Darmanto tak lagi sanggup membayar biaya pendidikan anak-anaknya. Empat orang masih menempuh pendidikan tinggi, satu lainnya duduk di bangku SMA. Uang semester belum terbayar. Modal usaha ikut hilang karena hasil kebun tak sempat dijual saat akses jalan putus.
Dengan suara bergetar, ia mengaku telah meminta anak-anaknya bersabar. “Ayah mungkin tak sanggup lagi melanjutkan,” katanya.
Bantuan yang diterima sejauh ini hanya sebatas makanan darurat. Sementara masa depan pendidikan anak-anaknya masih menggantung.
Baca Juga : Bencana di Tapteng Membuat Ayah Ini Terancam Putuskan Kuliah Empat Anaknya: Tolong Kami
Melalui media, Darmanto menyampaikan permohonan kepada pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah agar membantu pembiayaan pendidikan anak-anak penyintas bencana, serta segera membuka kembali akses jalan ke desa mereka.
“Jangan sampai sekolah anak kami terputus,” ujarnya, menutup cerita dengan mata berkaca-kaca.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
