Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dampak Perang Iran-Israel ke Indonesia, Begini Kata Ekonom

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Ilham Al Banjari
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ekonom Gunawan Benjamin. (Foto: Istimewa)

Dampak Perang Iran-Israel ke Indonesia, Begini Kata Ekonom

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Ekonom Gunawan Benjamin menilai perang antara Iran dengan Israel dapat memicu dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

Baca Juga : Gencatan Senjata Idulfitri: Napas Sejenak di Tengah Bara Konflik Pakistan-Afghanistan ​

Saat ini ia menyoroti kinerja mata uang Rupiah pada hari ini, Selasa (16/4/2024) yang mengalami pelemahan cukup tajam hingga menyentuh Rp16.200 per US Dolar.

Baca Juga : Pakistan Ultimatum Afghanistan: Gagal Damai, Siap Perang

Dia menyebut tekanan ini belum bisa dipastikan kapan akan berakhir karena bergantung pada sikap negara yang terlibat perang.

"Pelemahan mata uang Rupiah memang bisa menjadi kabar buruk bagi sejumlah komoditas pangan di tanah air. Bahkan hampir semua kebutuhan pangan strategis tidak akan bisa melepaskan diri dari pelemahan Rupiah. Karena mulai dari bahan baku penolong, bahan baku input produksi hingga barang siap konsumsi didatangkan dengan cara diimpor," terangnya kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (16/4/2024).

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

Gunawan mengatakan komoditas hotrikultura seperti cabai dan sayur-sayuran membutuhkan pupuk, di mana sebagian bahan baku pupuk di beli dari negara lain. Sedangkan untuk sumber protein seperti daging ayam dan telur ayam, lanjutnya, juga membutuhkan bahan baku olahan seperti pakan yang sebagian juga didatangkan dari Negara lain.

Baca Juga : Trump Sebut Respons Iran Terhadap Proposal Damai AS Tidak Dapat Diterima

"Atau seperti beras Bulog, daging sapi maupun sapi indukan yang memang didatangkan dalam bentuk barang jadi siap konsumsi dari negara lain. Termasuk juga gula pasir impor yang hanya sedikit butuh reaksi kimia dan siap dikonsumsi," ujarnya.

Gunawan menyebut selain itu, bahan bakar minyak (BBM) sebagian juga didatangkan dengan cara diimpor. Dia menegaskan pelemahan rupiah akan membuat harga barang-barang impor (konversi) menjadi lebih mahal, meskipun harga barang dari negara asal bisa saja tidak mengalami perubahan. 

Baca Juga : Militer Israel Klaim Tewaskan Komandan Pasukan Radwan Hizbullah Malek Balout di Beirut

"Sehingga wajar jika muncul kekhawatiran bahwa pelemahan Rupiah bisa membuat pemerintah merevisi kebijakan subsidi, atau bisa memicu kenaikan harga jual barang yang lebih tinggi," sebutnya.

Baca Juga : Diplomasi Memanas, Menlu Iran Temui Putin Bahas Gencatan Senjata dengan AS dan Israel

Ia menyarankan agar pemerintah Indonesia bisa memitigasi kondisi ini dengan serangkaian kebijakan untuk mengurangi dampak buruk khususnya pelemahan Rupiah. Dia menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah saat ini merupakan buah dari ketidakstabilan geopolitik global yang terus meningkat, di tengah ketidakstabilan ekonomi global yang turut menyertainya.

"Pemerintah sebaiknya lebih realistis melihat keadaan serta menempatkan kemungkinan risiko terburuk yang akan terjadi. Seperti, acuan nilai tukar Rupiah dalam APBN disesuaikan dengan mempertimbangkan resiko kebijakan suku bunga tinggi The FED dan perang yang berkecamuk dan meluas serta tren neraca dagang yang melemah seiring dengan memburuknya kinerja ekonomi negara tujuan ekspor," terangnya.

Menurutnya, jika pelemahan Rupiah dan ancaman kenaikan harga minyak mentah dunia direspon Presiden Jokowi untuk merevisi kebijakan subsidinya, Maka akan ada kemungkinan terjadinya gejolak harga pangan serta kenaikan laju tekanan inflasi. Namun, menurutnya lagi, dari sekian banyak risiko yang timbul akibat tensi geopolitik yang menekan rupiah, ketahanan pangan adalah sektor perbankan dan Keuangan.

"Sektor lain selain urusan ketahanan pangan yang perlu dijaga baik baik. Sektor tersebut adalah perbankan dan keuangan. Pemerintah harus curahkan perhatian yang besar untuk menjaga ketahanan pangan dan perbankan di tengah distuasi yang serba tidak pasti seperti saat ini," pungkasnya.

(HAM/nusantaraterkini.co)