Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Efek Domino Perang Iran, Ini Negara yang Terancam Kolaps Ekonomi Akibat Krisis Energi

Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi efek domino dampak perang Iran.(foto:rmol)

Nusantaraterkini.coJAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini bukan lagi sekadar masalah keamanan regional, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia. Pecahnya konflik di jantung produsen energi tersebut berisiko memicu guncangan pasokan global yang dampaknya merambat melalui jalur perdagangan dan fiskal.

Berdasarkan analisis Reuters, kerentanan setiap negara sangat bervariasi, tergantung pada tingkat ketergantungan impor energi serta kesehatan anggaran negara yang sudah ada sebelumnya.

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

​Di jajaran negara maju G7, Eropa kembali berada di garis depan risiko. 

Pengalaman pahit krisis energi akibat invasi Rusia ke Ukraina beberapa tahun silam membayangi kawasan ini. Jerman, sebagai raksasa industri, menghadapi tekanan hebat karena mesin ekonominya sangat haus energi, sementara ruang fiskal untuk memberikan subsidi mulai menyempit. Situasi serupa menghimpit Italia dan Inggris. London, khususnya, menghadapi risiko inflasi yang berkepanjangan akibat ketergantungan sistem kelistrikan mereka pada gas, yang harganya diprediksi akan melonjak lebih cepat daripada minyak mentah.

Baca Juga : Trump Sebut Respons Iran Terhadap Proposal Damai AS Tidak Dapat Diterima

Jepang mencatatkan diri sebagai salah satu yang paling rapuh di Asia. Dengan hampir seluruh pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz, gangguan pada jalur vital tersebut dapat melumpuhkan aktivitas domestik. Tekanan ini kian diperparah oleh pelemahan nilai tukar Yen yang membuat biaya impor bahan baku melambung tinggi.

Baca Juga : Militer Israel Klaim Tewaskan Komandan Pasukan Radwan Hizbullah Malek Balout di Beirut

​Dilansit RMOL, Senin (23/3/2026), dampak paling destruktif justru membayangi negara-negara berkembang dan kawasan Teluk sendiri. Meski berstatus eksportir, negara seperti Kuwait, Qatar, dan Bahrain terancam kontraksi ekonomi jika Selat Hormuz terblokade, sehingga kekayaan sumber daya mereka tidak bisa terdistribusi ke pasar global. 

Di Asia Selatan, India berada dalam posisi sulit, ketergantungan impor minyak sebesar 90% membuat ekonomi mereka terpukul melalui pelemahan Rupee dan kelangkaan energi di tingkat rumah tangga.

Baca Juga : Diplomasi Memanas, Menlu Iran Temui Putin Bahas Gencatan Senjata dengan AS dan Israel

Kondisi paling kritis dialami oleh negara-negara dengan fondasi ekonomi yang sudah retak, antara lain:

​Turki: Terhimpit beban pengungsi dan cadangan devisa yang kian menipis untuk menjaga stabilitas mata uang.

​Sri Lanka & Pakistan: Terpaksa mengambil kebijakan darurat mulai dari penetapan hari libur tambahan hingga pemangkasan konsumsi bensin demi menghemat stok energi yang menipis.

​Mesir: Menghadapi ancaman berlapis dari lonjakan harga pangan, penurunan pendapatan Terusan Suez, hingga hancurnya sektor pariwisata akibat ketidakpastian geopolitik.

​Skenario terburuk dari konflik ini adalah terciptanya perang regional berskala besar yang akan memutus urat nadi energi dunia. Jika diplomasi gagal meredam ketegangan, daftar negara yang terancam bangkrut diprediksi akan terus bertambah, mengingat keterhubungan pasar finansial dan komoditas global yang sangat erat saat ini.

(Emn/Nusantaraterkini.co)