Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Etnis Batak Dominasi Jumlah Sarjana di Indonesia, Ini Alasannya

Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Dr Irfan Simatupang, seorang Antropolog dari Universitas Sumatera Utara (USU) saat diwawancarai di Medan, pada Kamis (20/2/2025). (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kelompok etnis Batak menyumbang lulusan sarjana terbanyak Indonesia. Angkanya mencapai 18,02 persen dari jumlah keseluruhan sarjana yang ada di Indonesia.

Sementara itu, di urutan kedua, suku dengan jumlah sarjana terbanyak dipegang oleh Suku Minangkabau dengan persentase 18 persen.

Hasil itu berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) tentang Profil Suku dan Keragaman Bahasa Daerah Long Form Sensus Penduduk 2020 yang dirilis awal Februari 2025.

Baca Juga : Anakkonhi Do Hamoraon Di Au, Istilah yang Digenggam Orang Batak untuk Ciptakan Generasi Unggul

Meskipun dari data BPS tersebut masih meninggalkan catatan laporan yang tidak akan lepas kesalahan atau error. Kesalahan bisa terjadi karena sampling error dan nonsampling error.

Namun, Dr Irfan Simatupang, seorang Antropolog dari Universitas Sumatera Utara (USU), menyebutkan jika prediksi etnis Batak menjadi kelompok sarjana terbanyak, karena prinsip hidupnya.

Orang Batak selalu berusaha agar hidupnya berwibawa, lanjut pria yang juga Kepala Jurusan Prodi Antropologi USU ini, sehingga dapat mendatangkan kekuasaan.

Baca Juga : Batu Hobon Tempat Sakral di Samosir, Menyimpan Barang-barang Pusaka

Untuk memperolehnya, orang Batak percaya dengan prinsip hagabeon, hamoraon dan hasangapon. Selain itu, pola merantau orang Batak juga mempengaruhi.

"Orang Batak ini kemanapun dia pergi maka prinsip yang dia punya itu akan dia jalankan: hasangapon dia harus terhormat, hamoraon dia harus kaya dan hagabeon dia harus jadi orang yang terpandang," ucap Irfan kepada Nusantaraterkini.co di Medan, Kamis (20/2/2025).

Selanjutnya, Irfan juga berpendapat bahwa keinginan kuat orang Batak mengenyam pendidikan tinggi sudah ada sejak zaman dulu. Sebelum adanya pendidikan formal, orang Batak sudah terbiasa menuntut ilmu dari Datu, yakni tokoh sentral dalam ritual magis masyarakat Batak yang berperan sebagai tabib atau orang pintar yang dihormati.

Baca Juga : Marbinda Wujud Kesetaraan Manusia Dalam Natal bagi Masyarakat Batak

Pada masa itu, orang Batak juga belajar dari Raja Patik mengenai hukum, aturan, dan norma dalam bermasyarakat. Orang Batak lantas mulai mengenal pendidikan formal setelah masuknya zending untuk menyebarkan ajaran Kristen Protestan pada 1861.

"Otomatis pengaruh pendidikan Barat itu sudah masuk," katanya.

(cw7/nusantaraterkini.co)