Nusantaraterkini.co, MEDAN - Dalam perayaan Natal, umat Kristen memiliki berbagai cara untuk memeriahkannya. Di Sumatera Utara (Sumut), tradisi perayaan Natal sangat beragam, salah satunya adalah Marbinda, tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Batak Toba.
Diketahui, Marbinda adalah tradisi khas masyarakat Batak di Sumut yang biasanya dilakukan menjelang perayaan Natal.
Baca Juga : Perayaan Natal Mengulas Makna, Sejarah, dan Tradisi yang Dirayakan Umat Kristiani
Dalam tradisi ini, komunitas atau keluarga besar secara bersama-sama membeli seekor hewan ternak, seperti babi, kerbau, atau sapi, yang kemudian akan disembelih dan dibagikan kepada seluruh anggota kelompok.
Baca Juga : Masakan Italia Resmi Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia
Kata "Marbinda" berasal dari bahasa Batak yang berarti "berbagi daging". Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk menyediakan bahan makanan bagi perayaan Natal, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas di antara masyarakat Batak.
Menurut Elvirida Purba wanita asal Simalungun mengatakan, jika tradisi Marbinda susah ditemukan di masyarakat Kota, khususnya Medan. Tradisi itu bertujuan berbagi suka cita kepada sesama.
Baca Juga : Etnis Batak Dominasi Jumlah Sarjana di Indonesia, Ini Alasannya
"Marbinda susah ditemukan di kota. Mungkin karena (masyarakat) sudah masing-masing merayakan," kata Elvirida kepada Nusantaraterkini.co, Kamis (26/12/2024).
Baca Juga : Batu Hobon Tempat Sakral di Samosir, Menyimpan Barang-barang Pusaka
"Marbinda ini wujud dari berbagi suka cita. Dari daging yang dibagikan kepada semua orang itu, supaya semua bisa bersuka cita," sambungnya.
Awalnya, model pembayaran Marbinda menggunakan padi setelah panen. Namun, dalam perjalanannya model pembayarannya sudah dihitung pakai uang.
Biasanya, kata Elvirida, Marbinda dilakukan dua kali. Sehari sebelum hari Natal dan menjelang hari pergantian tahun. Sementara biaya Marbinda dikumpulkan secara bersama-sama selama satu tahun.
"Biayanya itu dikutip perkepala keluarga, biasanya Rp. 250 ribu. Nantinya akan dibelikan hewan, umumnya Babi atau Kerbau," ucapnya.
Kemudian, acara Marbinda akan diawali dengan kata-kata ajakan untuk bersatu, proses perjalanan menuju Natal dan do'a bersama. Kata Elvirida tahapan tersebut merupakan fungsi religi.
Disela obrolan seputaran Marbinda, Elvirida mengatakan jika momen itu ingin dirasakannya bersama keluarganya di Simalungun.
"Karena secara filosofis Marbinda ini bentuk dari kesetaraan manusia," pungkasnya.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
