Nusantaraterkini.co, DAMASKUS - Serangan Israel di Suriah selatan melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Tercatat, lebih dari 30 serangan tercatat pada paruh pertama November, kata lembaga pemantau perang Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights) pada Sabtu (15/11/2025).
Kelompok pemantau yang berbasis di Inggris itu mengatakan pasukan Israel melakukan penetrasi darat, menahan warga sipil dan tentara, membuldoser jalan dan lahan pertanian, serta mendirikan pos-pos pemeriksaan militer sementara di provinsi Quneitra dan Daraa.
Kelompok itu menyebut kegiatan tersebut sebagai "lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan mencatat bahwa hal itu terjadi "tanpa adanya tanggapan resmi" dari Damaskus.
Observatorium itu mengatakan pengepungan dan pelanggaran harian tersebut menekankan "tantangan keamanan yang meningkat di sepanjang perbatasan selatan," di mana pasukan Israel telah meningkatkan kehadiran mereka sejak akhir 2024.
Israel telah memperingatkan bahwa Suriah selatan tidak boleh menjadi "Lebanon selatan yang lain" dan telah mengancam "pukulan yang menyakitkan" terhadap kelompok-kelompok bersenjata atau pasukan Suriah yang mendekati perbatasan.
Baca Juga : Presiden Suriah Akan Kunjungi Gedung Putih, Perdana dalam Dua Dekade
Pada pertengahan 2025, Pasukan Pertahanan Israel mendirikan setidaknya sembilan pos permanen di dalam wilayah Suriah dan menciptakan "zona kontrol" sepanjang 15 kilometer.
Eskalasi tersebut meningkat pada Juli setelah serangan dan pengepungan Israel menyusul bentrokan di Provinsi Sweida yang berpenduduk mayoritas Druze. Israel mengatakan akan terus "beroperasi dengan kekuatan penuh" hingga "ancaman yang dirasakan" dinetralisir.
Meskipun ada kecaman dari PBB, Mesir, dan Turkiye atas pelanggaran kedaulatan Suriah, para pejabat Israel bersikukuh bahwa tindakan mereka bersifat defensif dan mengatakan bahwa pihak berwenang Suriah tidak memiliki kendali penuh atas wilayah selatan.
(*/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
