Nusantaraterkini.co, Medan – Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Sumatera Utara hingga November 2024 menunjukkan hasil positif meski diwarnai beberapa tantangan.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Sumatera Utara, Arridel Mindra, bersama sejumlah kepala instansi terkait, menyampaikan capaian ini dalam konferensi pers di Gedung Keuangan Negara Medan, Kamis (19/12/2024).
Baca Juga : Pendapatan APBN Sumut Sampai Oktober 2024 Tercatat 70,61 Persen
Pendapatan negara di Sumut mencapai Rp35,72 triliun, atau 83,52% dari target.
Baca Juga : Kecelakaan Bus Halmahera, Perusahaan Masih Mendata Para Korban
Meski mengalami penurunan sebesar 3,10% dibanding tahun sebelumnya, kinerja ini tetap dianggap solid.
Baca Juga : Tuntut Gaji Pegawai PDAM Mual Nauli Dibayar, Ribu Simatupang Lakukan Aksi Tunggal Di Kantor Bupati Tapteng
Sumber utama pendapatan berasal dari penerimaan pajak, kepabeanan, cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Baca Juga : Hanya Tersisa Puing, Korban Kebakaran 1 Ilir Harapkan Bantuan Pemerintah
Penerimaan pajak mencatat realisasi sebesar Rp30,63 triliun (83,35% dari target), dengan kontribusi terbesar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri sebesar Rp10 triliun.
PPh Pasal 21 menyumbang Rp5,1 triliun, sementara PPh Final tumbuh signifikan sebesar 27% (yoy), mencerminkan kebijakan yang efektif mendukung aktivitas ekonomi tertentu.
Di sisi belanja, realisasi mencapai Rp62,30 triliun atau 86,35% dari pagu anggaran, tumbuh 10,24% (yoy).
Belanja ini diarahkan untuk mendukung pemerataan ekonomi dan program prioritas pemerintah, termasuk transfer ke daerah dan belanja pemerintah pusat.
Meskipun sektor industri pengolahan dan pertanian masih terkontraksi, sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan signifikan sebesar 23,2%. Hal ini menunjukkan pemulihan aktivitas ekonomi di sektor-sektor tertentu.
Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp2,32 triliun atau 59,65% dari target, namun mengalami penurunan sebesar 11,44% (yoy).
Penurunan ini dipengaruhi oleh stagnasi harga referensi crude palm oil (CPO) serta kebijakan tarif bea masuk yang lebih rendah.
Meski demikian, penerimaan bea masuk tumbuh 2,53% menjadi Rp1,09 triliun, didukung produk impor seperti beras, gula, dan pupuk NPK.
Sebaliknya, penerimaan bea keluar terkontraksi 22,47%, terutama karena rendahnya harga CPO.
PNBP Melampaui Target
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencatat capaian positif dengan realisasi Rp2,75 triliun atau 130,82% dari target, tumbuh 6,01% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pendapatan PNBP ini terutama berasal dari Badan Layanan Umum (BLU), jasa lelang, dan pendapatan lainnya.
Arridel Mindra optimistis kinerja APBN Sumut tetap terjaga hingga akhir tahun, meskipun tantangan global seperti harga komoditas dan fluktuasi ekonomi menjadi perhatian.
"Kami terus berupaya mengoptimalkan penerimaan negara dan memastikan belanja tepat sasaran untuk mendukung pemulihan ekonomi," tutupnya.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
