Nusantaraterkini.co,SAMOSIR-Dalam rangka memperingati hari Pahlawan pada 10 November mendatang, sanggar seni Anggel Elkanea gelar pertunjukan opera batak, acara berlangsung di panggung terapung Watefroncity Pangururan, Kabupaten Samosir, Minggu (09/11/2025).
Penggelaran bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, terkhusus pahlawan seni opera batak di kawasan Danau Toba.
Baca Juga : Pengunjung Waterfroncity Nikmati Pertunjukan Air Mancur Menari
Opera Batak adalah seni pertunjukan tradisional dari Sumatera Utara yang memadukan unsur drama, musik, dan tari untuk menceritakan kisah rakyat, legenda, atau fenomena sosial.
Pertunjukan ini dulu digunakan sebagai media untuk menyuarakan kritik sosial terhadap isu-isu aktual, seperti masalah sosial dan perlawanan terhadap kolonialisme, namun sekarang di tampilkan sebagai identitas diri, hiburan dan kekayaan budaya Batak Toba.
Seni pertunjukan ini menggunakan musik tradisional seperti gondang, garantung, kecapi, dan suling, serta menampilkan tarian tor-tor Batak yang sangat khas dan tradisional.
Pertunjukan ini disaksikan ribuan penonton baik masyarakat maupun wisatawan yang berlibur ke Samosir, iringan musik dengan alunan gendang mengingatkan perjuangan leluhur batak dalam menjaga tradisi hingga keturunannya.
Pertunjukan semakin terasa menyetuh, ketika para telent benar-benar meresapi setiap gerakan, sentuhan,tarian, alunan musik dan alur cerita, bahkan ikan-ikan di Danau Toba juga menari dengan ria diiringi dengan gelombang air yang mengisyaratkan sudah petang.
Pembina seni bernama Marlita Simbolon, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut di gelar untuk mengenang jasa para pahlawan maupun pedahulu yang telah berjuang.
"Kegiatan ini di gelar dalam rangka memperingati hari pahlawan pada 10 november mendatang," ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa pertunjukan Opera Batak kali ini dengan tema Inang Nauli Basa Sigale-gale.
"Penampilan opera batak kali ini, kita ambil dengan tema, " Inang Nauli Basa Sigale-gale", memiliki arti seorang ibuk tidak rela dan tidak setuju bahwa anak semata wayang ikut perang, namun apa daya sang ibuk, anak pergi dan tewas di medan perang," ucapnya.
Sejarah sigale-gale berawal dari seorang raja sangat berduka karena putranya bernama Mangale, meninggal di medan perang.
Untuk menghibur sang raja, para datu (dukun) membuat patung kayu yang menyerupai putranya dan menggunakan kekuatan gaib serta musik Gondang Bolon agar patung itu dapat bergerak dan menari seperti Manggale masih hidup.
Saat ini, patung Sigale-gale tidak lagi digerakkan oleh roh, melainkan oleh dalang yang menggerakkannya dengan tali.
Patung Sigale-gale kini menjadi warisan budaya yang masih di jaga, dilestarikan dan menjadi objek wisata seperti di Tomok dan Huta Siallagan Samosir.
Baca Juga : Sepi Pembeli, Pedagang di Kawasan Wisata Samosir Mengeluh
Ia juga mengucapkan terimakasih banyak atas partisipasi dan antusias masyarakat maupun wisatawan yang menyaksikan pertunjukan seni, musik dan opera batak.
"Terimakasih atas partisipasi dari masyarakat maupun wisatawan yang telah menyempatkan waktu, menyaksikan keseruan pertunjukan opera batak di tepian Danau Toba. Kiranya ke depan kami semakin memperbaiki diri dan melestarikan budaya batak," tutupnya.
(Jas/Nusantaraterkini.co)
