Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Perang dagang antara negara adidya Amerika Serikat (AS) dan China mulai mencair. Pasalnya kedua negara menyepakati pemangkasan tarif timbal balik dan penghentian sementara tindakan saling balas tarif yang selama ini telah mengguncang perekonomian global.
Kesepakatan tersebut diumumkan pada Senin (12/5/2025) waktu setempat, usai pertemuan tatap muka antara pejabat senior ekonomi AS dan delegasi China yang dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri He Lifeng di Jenewa. Pertemuan ini juga merupakan pertemuan langsung pertama sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terkoreksi Terkerek Perang Tarif Antara AS dan Tiongkok
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menyampaikan, kedua pihak sepakat menerapkan jeda 90 hari terhadap kebijakan tarif agresif mereka. Dalam periode tersebut, tarif perdagangan akan dipangkas lebih dari 100 poin persentase menjadi hanya 10 persen.
"Kedua negara mewakili kepentingan nasional mereka dengan sangat baik. Kami berdua memiliki kepentingan dalam perdagangan yang seimbang, AS akan terus bergerak ke arah itu," " kata Bessent kepada wartawan, dikutip dari Reuters via RMOL.
Pernyataan tersebut disampaikan bersama Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer. Keduanya menyebut ada kemajuan signifikan dalam memperkecil jurang perbedaan antara Washington dan Beijing, dengan membuka peluang meredakan perang dagang yang selama ini membebani rantai pasok global.
Baca Juga: Pemerintah Diminta Nego Tarif Baru Presiden Trump
Sejak menjabat kembali awal tahun ini, Trump menaikkan bea masuk terhadap produk asal Tiongkok menjadi 145 persen melanjutkan kebijakan keras yang sempat ia terapkan dalam masa jabatan pertamanya dan diperluas oleh pemerintahan Joe Biden.
Sebagai balasan, Beijing pun memberlakukan pembatasan ekspor tanah jarang komoditas krusial bagi industri militer dan teknologi tinggi di AS serta menaikkan tarif terhadap barang-barang Amerika hingga 125 persen.
Perang tarif itu telah membekukan perdagangan dua arah senilai hampir 600 miliar Dolar AS, memicu PHK di sejumlah sektor, memperparah ketidakpastian pasar, dan menebar kekhawatiran akan potensi resesi global.
Pasar merespons positif kesepakatan tersebut. Bursa berjangka Wall Street langsung menguat dan Dolar AS naik terhadap sejumlah mata uang safe haven, seiring harapan bahwa pembicaraan damai ini bisa mencegah perlambatan ekonomi dunia yang lebih dalam.
(*/Nusantaraterkini.co)
