Nusantaraterkini.co, Medan – Upaya percepatan rehabilitasi mangrove di Sumatera Utara terus digencarkan melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) yang diinisiasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan dukungan Bank Dunia.
Aditya Wahyu Putra, perwakilan dari Provincial Project Implementation Unit (PPIU) M4CR BRGM Sumatera Utara, memaparkan bahwa program ini memiliki target rehabilitasi mangrove seluas 6.078 hektar hingga tahun 2027.
Baca Juga : Zakiyuddin Harahap: Penanganan Banjir Rob Belawan Membutuhkan Peran Lintas Sektoral
"M4CR merupakan program strategis untuk mempercepat rehabilitasi mangrove BRGM hingga 2027. Di Sumatera Utara, program ini baru berjalan pada Maret 2024 dengan fokus edukasi dan sosialisasi berupa sekolah lapang, pelatihan ekonomi, serta hibah usaha masyarakat di 93 desa," ujar Aditya, saat memberikan keterangan kepada media.
Baca Juga : Menilik Pesona Hutan Bakau di Bekasi Jawa Barat
Hingga kini, program ini telah melakukan serangkaian kegiatan penting, di antaranya sosialisasi tingkat tapak, penetapan titik lokasi indikatif, identifikasi lokasi, penyusunan rancangan kegiatan, dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Proses prakondisi dan sosialisasi telah menjangkau delapan kabupaten, yakni Langkat, Asahan, Labuhan Batu Utara, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Kota Medan, Batubara, dan Labuhan Batu.
Sebanyak lima kabupaten, yaitu Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, dan Labuhan Batu Utara, kini telah memiliki rancangan kegiatan rehabilitasi mangrove. Total area rehabilitasi yang dirancang meliputi 947 hektar di dalam kawasan hutan dan 187 hektar di luar kawasan hutan, dengan pelibatan aktif dari 29 desa di 14 kecamatan.
Baca Juga : Kecelakaan Bus Halmahera, Perusahaan Masih Mendata Para Korban
Selain fokus pada pelestarian ekosistem mangrove, program ini juga mengutamakan pemberdayaan masyarakat lokal. BRGM telah menyalurkan dana hibah usaha produktif melalui mekanisme matching grant kepada 12 kelompok masyarakat. Hingga akhir tahun ini, rehabilitasi mangrove seluas 641 hektar telah dilakukan dengan melibatkan 28 kelompok masyarakat.
Baca Juga : Tuntut Gaji Pegawai PDAM Mual Nauli Dibayar, Ribu Simatupang Lakukan Aksi Tunggal Di Kantor Bupati Tapteng
“Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu yang panjang. Namun, kami optimis program ini dapat berjalan berkelanjutan dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, lembaga internasional, dan masyarakat lokal,” jelas Aditya.
Pelaksanaan rehabilitasi mangrove tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti keterbatasan bibit mangrove yang memerlukan waktu pembibitan ideal selama 3-4 bulan, serta pandangan negatif pemilik tambak yang menganggap penanaman mangrove dapat mengganggu produktivitas perikanan.
Baca Juga : Hanya Tersisa Puing, Korban Kebakaran 1 Ilir Harapkan Bantuan Pemerintah
Selain itu, faktor alam seperti pasang surut air laut yang bervariasi di setiap lokasi juga menjadi hambatan teknis di lapangan.
“Meskipun banyak tantangan, kami percaya keberlanjutan program ini dapat membantu memulihkan ekosistem mangrove secara signifikan, khususnya di Sumatera Utara yang memiliki potensi mangrove seluas 25.458 hektar berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2023,” pungkas Aditya.
Dengan target rehabilitasi 75 ribu hektar hingga 2027 di empat provinsi prioritas Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara program M4CR menjadi salah satu upaya strategis BRGM untuk mewujudkan ketahanan pesisir Indonesia.
(Cw9/Nusantaraterkini.co)
