Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Soal Tradisi Mandi Pangir di Sumut Sambut Bulan Suci Ramadan, Begini Kata MUI

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Ilham Al Banjari
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pedagang menjual pangir di Pasar Tradisional Simpang Limun Medan, Senin (11/3/2024). (Foto: Ilham Al Banjari).

Soal Tradisi Mandi Pangir di Sumut Sambut Bulan Suci Ramadan, Begini Kata MUI

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan memastikan mandi pangir yang menjadi tradisi umat Muslim di Sumatera Utara (Sumut) dalam menyambut bulan suci Ramadan sah dilakukan atau tidak dilarang dalam Islam.

Baca Juga : Dave Laksono Apresiasi Kemkomdigi Lakukan Ini Selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 H

Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum menjelaskan, tradisi mandi pangir ini biasa juga disebut dengan Marpangir atau juga Balimau. Dia menegaskan umat Muslim boleh melaksanakan mandi pangir dengan niat mandi taubat.

Baca Juga : Pesan Idulfitri Menag Nasaruddin Umar: Transformasi Ritual Menjadi Aksi Empati Sosial ​

"Jadi mandi pangir, Balimau, Marparing. Ini tradisi yang tentunya sangat baik sesuai dengan niatnya. Apa niatnya? Dalam rangka menyucikan diri menyambut Ramadan," katanya saat dihubungi Nusantaraterkini.co, Senin (11/3/2024).

"Jadi dalam sabda Rasullulah SAW ada hadis siapa saja yang melakukan dosa lalu dia menyempurnakan bersuci. Kata menyempurnakan bersuci ini oleh ulama kita atau umat Islam dipahami dengan berbagai cara, bisa berwudhu, mandi," sambungnya.

Baca Juga : Poken Bante, Pengobat Rindu Kampung Halaman Bagi Perantau di Madina

Hasan menjelaskan  menyempurnakan dan mensucikan dalam konteks tradisi mandi pangir dalam menyambut Ramadan idealnya diniatkan sebagai mandi taubat. Dia menegaskan dengan begitu mandi pangir juga menjadi bagian daripada ibadah.

Baca Juga : Mengenal Malam Lailatul Qadar dan Kemuliaan di Dalamnya

"Setelah itu idealnya setelah mandi pangir atau mandi taubat ini dengan niat taubat tadi, hari ini bagi yang puasa besok cukup baik melaksanakan hari ini, mungkin sore nanti, setelah ashar, atau menjelang ashar, mandi taubat," ujarnya.

Hasan menyebut tradisi mandi pangir cukup berbeda jika dilihat dari wilayah pedesaan dan perkotaan. Dia mengatakan mandi pangir biasa dilakukan masyarakat pedesaan di sungai.

Baca Juga : Tuntut Gaji Pegawai PDAM Mual Nauli Dibayar, Ribu Simatupang Lakukan Aksi Tunggal Di Kantor Bupati Tapteng 

"Kalau di daerah yang tidak ada sungainya itu ya di rumah masing-masing biasanya memasak rempah-rempah wewangian dicampurkan ke dalam air mandi ini dibolehkan karena mandi sunah," terangnya.

Baca Juga : Garuda Muda Siap Tempur, Inilah Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di ASEAN U-19 Bank SUMUT Championship 2026

Dia menekankan mandi pangir berbeda dengan mandi wajib. Dia menjelaskan mandi wajib mutlak memakai air yang tidak boleh dicampur sesuatu hingga mengubah sifat air.

"Nah ini kan (mandi pangir) bukan mandi wajib. Jadi dibolehkan itu menggunakan rempah-rempah untuk menyegarkan badan. Saya ulangi lagi (mandi pangir) dengan niat mandi taubat," pungkasnya.

Seperti diketahui, mandi pangir sudah menjadi tradisi umat Muslim di Sumut dalam menyambut bulan suci Ramadan. Masyarakat biasanya melaksanakan mandi pangir sore hari H-1 Ramadan.

Pangir merupakan gabungan rempah-rempah yang terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi dan bunga pinang.

Sebagai informasi, Kementerian Agama menetapkan 1 Ramadhan pada 12 Maret 2024 atau Selasa. Umat Muslim Indonesia akan memulai ibadah puasa pada besok.

(HAM/nusantaraterkini.co)