Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Pada tanggal 20 Maret 2024, tragedi kemanusiaan menggemparkan Indonesia saat ratusan pengungsi Rohingya ditemukan terombang-ambing di perairan Aceh Barat.
Kapal yang mereka tumpangi karam, meninggalkan 149 penumpang, dengan hanya 75 orang yang berhasil selamat. Sisanya dilaporkan tewas atau hilang di laut.
Peristiwa ini dinyatakan oleh PBB sebagai tragedi terburuk dalam sejarah pengungsi Rohingya di Asia Tenggara pada era modern. Namun, tragedi ini tidak hanya menyentuh aspek kemanusiaan tetapi juga memicu gelombang kebencian yang meluas di media sosial.
Sejak tragedi tersebut, dilansir dari YouTube Narasi Newsroom pada Selasa (27/8/2024) sejumlah besar komentar negatif dan ujaran kebencian terhadap pengungsi Rohingya telah mengemuka.
Analisis terbaru menunjukkan bahwa disinformasi dan kebencian di media sosial terus meningkat, memicu penolakan terhadap pengungsi Rohingya.
Analisis Disinformasi dan Kebencian
Menurut data terbaru, kampanye terorganisir di media sosial telah mengubah persepsi publik terhadap Rohingya secara signifikan dalam waktu kurang dari tiga bulan. Menurut analisis lebih dari 15.000 postingan di Facebook, Instagram, dan Twitter serta lebih dari 3.700 video di TikTok, yang sering kali menyebarkan konten kebencian.
Temuan menunjukkan bahwa disinformasi sering disebarluaskan melalui TikTok sebelum menyebar ke platform lain seperti Facebook dan Twitter.
Konten negatif ini didominasi oleh akun-akun mikro-influencer dengan jumlah pengikut antara 1.000 hingga 100.000, serta beberapa akun makro-influencer yang secara intensif mendemonisasi Rohingya.
Lonjakan Konten Negatif dan Dampaknya
Data Google Trends menunjukkan lonjakan signifikan dalam pencarian terkait pengungsi Rohingya pada bulan Juni 2015 dan 2017, namun lonjakan terbaru dari November hingga Desember 2023 menunjukkan perubahan drastis dalam sentimen publik.
Baca Juga: 12 Hari Lagi, Update Terbaru Pembangunan Sport Center Deliserdang
Persentase sentimen negatif terhadap Rohingya mencapai hampir 80 persen. Temuan ini juga mencatat bahwa konten kebencian di media sosial sering kali didorong oleh kelompok yang terorganisir.
Sebagai contoh, analisis komentar pada video TikTok menunjukkan pola yang mencurigakan, seperti lonjakan komentar yang dilakukan secara serempak pada waktu-waktu tertentu, yang mengindikasikan adanya kemungkinan penggunaan bot.
nusantaraterkini.co/uploads/images/202408/image_870x_66cdaeed4fc92.jpg" alt="">
Keterkaitan dengan Kontestasi Politik
Isu Rohingya tidak hanya memicu kebencian di dunia maya tetapi juga telah menjadi alat politik. Isu ini semakin terpolarisasi seiring dengan kontestasi Pilpres 2024 di Indonesia, di mana beberapa akun yang mengkritik Rohingya juga terhubung dengan pendukung calon presiden tertentu.
Tren ini mirip dengan pola yang terlihat dalam kampanye politik di negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman, di mana isu imigrasi sering digunakan untuk meraih dukungan politik.
Baca Juga: Cara Gampang Dapatkan Tiket Nonton PON di Sumut ke Arena Pertandingan, Tiketnya Gratis
Isu Rohingya yang berkembang menjadi sorotan publik memerlukan perhatian lebih lanjut. Disinformasi dan kebencian yang menyebar di media sosial telah menciptakan suasana yang merugikan pengungsi Rohingya dan memperburuk situasi mereka.
Penting untuk terus memantau dan menangani penyebaran disinformasi guna menghindari eskalasi kebencian dan memastikan bahwa isu kemanusiaan ini mendapatkan penanganan yang tepat dan bijaksana.
(Akb/nusantaraterkini.co)
