Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Wapres AS Sebut China Rakyat Jelata, Beijing: Bodoh dan Tak Sopan

Editor :  hendra
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Wapres AS JD Vance (dok. REUTERS/Carlos Barria)

nusantaraterkini.co, BEIJING - Otoritas China mengecam Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat (AS) JD Vance terkait komentarnya yang mengatakan Washington meminjam uang dari "rakyat jelata China" saat membahas penerapan tarif. 

Beijing pun secara terang-terangan menyebut Vance sebagai orang "bodoh dan tidak sopan".

"Posisi China terkait hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS telah diperjelas," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, seperti dilansir AFP, Selasa (8/4/2025).

Baca Juga : Wagub Sumut Dampingi Wapres RI Gibran Tinjau Dua Desa Terdampak Banjir dan Longsor Tapsel

"Sungguh mengejutkan dan menyedihkan untuk mendengar kata-kata bodoh dan tidak sopan seperti itu dari Wakil Presiden ini," tegas Lin merujuk pada Vance.

Presiden AS Donald Trump telah menjungkirbalikkan perekonomian dunia dengan penerapan tarif secara besar-besaran, yang meningkatkan momok resesi internasional, namun mengesampingkan segala bentuk jeda dalam kebijakan perdagangannya yang agresif meskipun terjadi aksi jual pasar yang dramatis.

Komentar Vance yang dikecam China itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis (3/4/2025) lalu, ketika dia membela penerapan tarif oleh AS sebagai penangkal bagi "ekonomi globalis", yang disebutnya tidak berhasil bagi rakyat biasa di Amerika.

Baca Juga : Wapres Ditugaskan Hadiri KTT G20 di Afrika Selatan, Pakar: Prabowo Ingin Gibran Ikut Sibuk Urus Indonesia

Kita meminjam uang dari rakyat jelata China untuk membeli barang-barang yang diproduksi rakyat jelata China tersebut," ucap Vance dalam wawancara itu dikutip detik.

"Itu bukan resep untuk kemakmuran ekonomi. Itu bukan resep untuk harga yang rendah, dan itu bukan resep untuk lapangan pekerjaan yang baik di Amerika Serikat," sebutnya.

Trump meyakini penerapan tarif akan menghidupkan kembali basis manufaktur AS yang hilang, dengan memaksa perusahaan-perusahaan asing untuk relokasi ke wilayah AS, daripada memproduksi barang di luar negeri.

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

Namun sebagian besar ekonom mempertanyakan klaim itu dan menyebut tarif Trump diterapkan secara sewenang-wenang.

(Dra/nusantaraterkini.co).