Nusantaraterkini.co, TEL AVIV – Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Iran meluncurkan serangan balasan masif ke wilayah Israel. Langkah ini merupakan respons langsung Teheran atas serangan sebelumnya yang menargetkan Fasilitas Nuklir Natanz, salah satu instalasi strategis terbesar milik Iran.
Serangan roket gelombang kedua dilaporkan menghantam pusat pemukiman di Kota Arad, Israel Selatan, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur parah dan jatuhnya puluhan korban sipil.
Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari
Berdasarkan laporan Aljazeera pada Senin (23/3/2026), hantaman proyektil tersebut meruntuhkan sejumlah bangunan bertingkat. Data sementara menunjukkan sedikitnya 64 orang mengalami luka-luka, sementara tim penyelamat masih berjibaku di bawah reruntuhan untuk mencari warga yang diduga terjebak. Situasi di lapangan nampak mencekam dengan kepulan asap yang menyelimuti wilayah selatan negeri tersebut.
Baca Juga : Trump Sebut Respons Iran Terhadap Proposal Damai AS Tidak Dapat Diterima
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan pernyataan emosional terkait serangan yang menembus sistem pertahanan mereka. Ia mengakui bahwa negara tengah berada dalam fase krusial yang menentukan eksistensi di masa depan.
“Ini malam yang sangat sulit dalam pertempuran untuk masa depan negara kita. Doa kami untuk para korban luka agar segera pulih,” ungkap Netanyahu dalam keterangan resminya, Senin sore waktu setempat.
Baca Juga : Militer Israel Klaim Tewaskan Komandan Pasukan Radwan Hizbullah Malek Balout di Beirut
Di lokasi kejadian, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mencoba membakar semangat warga yang terdampak. Ia menegaskan bahwa militer Israel tidak akan mundur dan akan terus mengeskalasi serangan hingga mencapai kemenangan mutlak.
Baca Juga : Diplomasi Memanas, Menlu Iran Temui Putin Bahas Gencatan Senjata dengan AS dan Israel
"Kita sedang berperang. Ini adalah perang di mana kita harus terus menghancurkan untuk meraih kemenangan," tegas Ben-Gvir saat meninjau puing-puing bangunan di Arad, seperti dilansir RMOL, Senin (23/3/2026).
Meningkatnya intensitas serangan yang kini mulai menyasar infrastruktur sipil memicu alarm bahaya bagi komunitas internasional. Para pengamat politik global mengkhawatirkan gesekan ini akan meletus menjadi perang regional berskala besar yang melibatkan banyak aktor di Timur Tengah.
Baca Juga : Israel Tambah Anggaran Pertahanan hingga Rp1.800 Triliun, Borong Jet Tempur F-35 dan F-15IA dari AS
(Emn/Nusantaraterkini.co)
