Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perang Lawan Iran Sedot Rp433 Triliun Kas AS Hanya dalam Dua Bulan

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang demonstran mengangkat tangannya yang bertuliskan slogan "No War" dalam sebuah aksi unjuk rasa di Tel Aviv, Israel, pada 14 Maret 2026, yang digelar untuk memprotes serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dan menuntut dihentikannya semua tindakan perang. (Foto: Xinhua/JINI/Tomer Neuberg)

Nusantaraterkini.co, WASHINGTON - Seorang pejabat senior Pentagon pada Rabu (29/4/2026) mengatakan biaya perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang sedang berlangsung diperkirakan telah mencapai 25 miliar dolar AS atau setara Rp433 triliun (1 dolar AS = Rp17.324) sejauh ini, seiring konflik tersebut telah berlanjut selama dua bulan.

"Kurang lebih, per hari ini, kita menghabiskan sekitar 25 miliar dolar AS untuk Operasi Epic Fury," ungkap Jules Hurst III, pelaksana tugas (Plt) pengawas keuangan Pentagon, kepada Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat AS (House Armed Services Committee/HASC), saat memberikan kesaksian bersama Menteri Perang Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.

Baca Juga : Pentagon Sebut Biaya 6 Hari Serangan AS ke Iran Tembus 11,3 Miliar Dolar

Hurst menambahkan, sebagian besar dari biaya tersebut dialokasikan untuk amunisi, serta mencakup biaya operasional, pemeliharaan, dan penggantian peralatan.

Baca Juga : Misbakhun: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Bukti Ketahanan Ekonomi Nasional

Menurut laporan media sebelumnya, para pejabat Pentagon menyampaikan kepada anggota parlemen dalam sebuah pengarahan tertutup pada 11 Maret bahwa pemerintahan Trump telah menghabiskan lebih dari 11,3 miliar dolar AS hanya dalam enam hari pertama perangnya melawan Iran.

Kehadiran Hegseth dalam sidang dengar pendapat yang berlangsung berjam-jam itu menandai sesi tanya jawab publik pertamanya sejak AS melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Baca Juga : Rupiah Hari Ini Masih Tertekan di Level Rp17.100–Rp17.200, Investor Tunggu Sinyal Bank Indonesia

Dalam sidang dengar pendapat tersebut, sebagian besar kubu Partai Republik menyatakan dukungan terhadap keputusan Presiden Donald Trump untuk melancarkan aksi militer terhadap Iran, sementara kubu Partai Demokrat terlibat dalam perdebatan sengit dengan Hegseth mengenai strategi, tujuan, dan konsekuensi perang tersebut.

Baca Juga : 8 Juta Warga AS Gelar Aksi ‘No Kings’, Protes Besar-besaran Tolak Pemerintahan Trump

Saat menanggapi serangkaian pertanyaan tajam dari kubu Demokrat mengenai biaya perang Iran yang meningkat cepat, berkurangnya persediaan amunisi utama secara signifikan, serta dampak konflik terhadap biaya hidup warga AS, Hegseth menyebut kritik terhadap perang tersebut bermotif politis.

Sang menteri perang juga menolak menjawab pertanyaan mengenai berapa lama konflik itu kemungkinan akan berlangsung atau berapa biaya yang pada akhirnya harus ditanggung.

Baca Juga : Jaringan Restoran AS Steak n Shake Borong Bitcoin Senilai Rp150 Miliar

Lebih lanjut dia membela usulan anggaran pertahanan Pentagon tertinggi dalam sejarah sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027.

"Anggaran (ini) akan memastikan AS terus mempertahankan militer terkuat dan paling mumpuni di dunia, saat kita bergulat dengan lingkungan ancaman yang kompleks di berbagai wilayah konflik," tutur Hegseth.

(*/nusantaraterkini.co) 

Sumber: Xinhua